“Aku gak berani gangguin kalian… karena sepertinya kalian berdua sedang dalam problem serius…” katanya sambil mengambil tissu dan melangkah mengitari meja untuk menyeka darah yang masih mengalir dari luka di bibirku, “Aku baru tahu kalau kamu ama DC ada sesuatu seperti itu!”
“Bukan seperti apa yang kamu pikirkan!” kataku sambil mengambil tempat duduk di depannya dan membiarkan Roy membersihkan luka di bibirku,
“Aku hanya bingung kenapa adegan teriak-teriak itu bisa menyebabkan kalian berdua… Hmmm…” Roy memberi jeda, bingung bagaimana menamai apa yang dilihatnya tadi, “Biting each other?!”
“Kalau kamu masih mau ngomongin itu mending kamu say bye-bye ama masalah keberadaan adik lu!”
^%$#@\
Akhirnya setelah beberapa hari menunggu, Dina menelponku. Tepat seperti dugaanku, dia lari dari rumah dibantu teman ceweknya. Beberapa hari sebelum dia pergi, Dina dan Kakaknya sempat cekcok besar karena masalah Dina yang mengakui dirinya lesbian.
Tentu saja Roy marah besar, bagaimana tidak… Dina yang umurnya tak terpaut jauh dengan Roy itu telah dijodohkan oleh orang tuanya yang pemilik pesantren dengan salah satu murid bapaknya. Roy benar-benar pusing memikirkan cara bagaimana menjelaskan kepada orang tuanya tentang keadaan Dina. Sedangkan Dina yang panik, malah memilih kabur dari rumah bersama pacarnya.
Aku sudah berhasil meluruskan kesalah pahaman antara adik-kakak ini dan Dina sudah bersedia untuk pulang. Pada dasarya memang dia dan Roy sangat dekat hubungannya.
Sudah 4 hari lamanya aku menghindar untuk menemui Roy di studio karena aku tahu… luka di bibir itu pasti akan mengundang banyak pertanyaan. Malas melayani pertanyaan-pertanyaan itu, maka aku putuskan untuk tidak datang sampai luka itu sembuh benar.
Jadilah hari itu aku kembali menaiki anak tangga yang sangat panjang itu untuk sampai di kantor Roy yang ada di lantai 4. Aku sudah hampir sampai di lantai teratas itu ketika kulihat sosok DC sudah menantiku di ujung tangga.
“Hai, Na!” sapanya sambil nyengir,
“Hai…” sapaku balik masih sedikit ngos-ngosan,
“Na… aku…” dia mencoba untuk bicara,
“Bisa tolong biarkan aku tarik napas dulu? Aku benar-benar berpikir naik turun tangga itu olahraga, tapi apa kalian tidak merasa itu mengurangi efektifitas kerja?! Build a lift guys… or at least escalator!” kataku sambil menghempaskan tubuhku di sofa di lobby radio,
“Ntar… Kalau ada duitnya!” jawabnya sambil nyengir,
“Tau darimana aku datang? Apa sekarang kalian pasang CCTV?” tanyaku lagi pada DC yang sudah mengambil tempat duduk di depanku,
“Aku tahu dari Roy…” sahutnya pelan,
“Ah… Jadi… gimana keadaan kamu ma Inggrit? Dah baikan?” tanyaku padanya tanpa basa-basi,
“Dia udah berangkat ke Jakarta… 3 minggu baru balik!”
Kuamati raut wajah DC yang menjadi muram karena pertanyaan itu. Dia menggigit bibir dan menatapku dibalik matanya yang redup.
“Uhuh…” aku hanya menggumam maklum,
“Na… Gue gak bisa tanpa Inggrit… Cuma Inggrit yang bisa bikin aku kayak gini…” katanya sambil menyisir rambutnya dengan jari-jarinya yang panjang,
“Pastinya! Cuma Inggrit yang bisa bohongin kamu sampai kayak gini!” kataku sambil berdiri dan berjalan menyusuri lorong untuk ke ruangan Roy,
“Aku mencintainya, Nina!! Dan aku gak akan bisa mencintai orang lain…” dengan sangat cepat DC berdiri dan memotong jalan, menghentikan langkahku,
“Itu bukan cinta DC… itu kegilaan!!” kataku sambil mencoba menyingkirkan DC dari lorong itu,
“Aku bahkan gak akan bisa terpuaskan ama cewek lain…” katanya setengah berteriak setengah berbisik,
“Now you’re getting way… too much!! Lu mau bikin gue gila ya?!” kataku sambil berbalik ke arahnya dan aku sangat putus asa, “Denger ya, DC… Kamu gak perlu Inggrit untuk melanjutkan hidup kamu. Lebih gak butuh lagi hanya untuk memuaskan gairahmu! Lu kira ada berapa banyak cewek yang akan dengan senang hati mempraktekan keahlian mereka memuaskan cowok dengan kamu sebagai objeknya?”
“Tapi gak akan sama seperti Inggrit!” katanya lagi.
Kesal, putus asa dan luar biasa kesal dengan semangat DC yang begitu lembek aku langsung menarik DC tanpa pikir panjang, melewati pintu kantor Roy yang tertutup dan memasuki daerah belakang yang memang jam segini sangat jarang dimasuki kecuali untuk orang-orang yang mau ke toilet.
“Na… Mau kemana?”
“Sekali lagi aku bilang ama kamu! Kamu gak perlu Inggrit untuk bisa memuaskan diri kamu!”
Dengan sekuat tenaga kudorong tubuh besar DC masuk ke salah satu cubical toilet di ladies room itu dan menutup pintu cubical dibelakangku.
“Na! Gila lu! Ngapain disini?”
“Sshhh… ada orang masuk! Mending kamu diem aja… Kalau gak, kamu siap-siap aja digebukin cewek-cewek itu!”
Tak lama kemudian masuklah 3 orang cewek yang gak aku kenal ke dalam ladies room itu dan mereka bergerombol di depan deretan cermin dan wastafel.
Dengan pandangan mata menantang aku menatap mata DC… Disana ada sedikit kepanikan melanda. Tak menunggu lama, aku langsung menciumnya tanpa aba-aba. Awalnya perlahan dan lembut, namun lama kelamaan kutambahkan tekanan pada bibirku. Kupindahkan tanganku yang masih menggandeng tangannya yang besar dan kokoh perlahan dan pasti mengarah ke tengkuknya yang terbuka.
Kurasakan kesadarannya mulai melayang jauh bersamaan dengan diletakkannya telapak yang panas itu di punggungku dan panasnya menembus bahan kain dari pakaianku.
“Ehm… Ah… Unnn”
“Eh kamu kemarin ketemu ama…”
“Yang ada di sana itu…”
“Sumpah keren banget deh si Der…”
Salah satu tanganku menuju ke resleting celana jeansnya, tanpa suara aku membuka ikat pinggangnya dan menurunkan resletingnya. Bisa kurasakan napasnya tercekat sejenak, dia langsung menangkap tanganku dan melepaskan ciumannya.
Namun aku tak mau kalah dengan penolakannya yang aku tahu sebenarnya dilakukan dengan ragu-ragu.
“Aku sarankan untuk kamu menutup mulut kamu!”
Tanpa aba-aba aku langsung mengeluarkan penisnya yang setengah tegang masuk ke dalam mulutku dan berpesta, erangan dan desahan tertahan dari bibir DC yang terbungkam telapak tangannya sendiri justru membuatku semakin semangat. Beberapa menit kemudian, dia sudah bingung harus meletakkan tangannya dimana. Dari pperhitunganku, saat ini dia sudah berasda di ujung ketahanannya, namun dengan keadaan saat itu dimana 3 orang cewek itu belum juga keluar dari toilet mebuatnya tak bisa berbuat bebas dan melepaskan kendali dirinya.
Untungnya tak lama kemudian salah satu dari cewek itu harus menerima telpon dari seseorang dan karena sinyal penerimaan di bagian belakang gedung ini sangat jelek dia harus pindah ke bagian lobby dan hal ini tentu saja diikuti oleh kedua temannya.
Akhirnya melepaskannya satu tangan yang awalnya membekap mulutnya sendiri dan memindahkannya ke bagian belakang kepalaku, di cengkeramnya rambutku dan memaju mundurkan pinggulnya membuat penisnya keluar-masuk mulutku dengan sedikit lebh cepat. Tangannya yang satu lagi menahan tubuhnya agar tak roboh karena kenikmatan yang menyerang saraf otaknya.
“Ough God!! kamu bener-bener cari gara-gara, Na!! What are you thinking you doing dengan melakukan itu semua?!”
“Ough yes… Ugh… enak banget Na! You’re so good in it!”
“Gue mau keluar Na!! You have to swallow it all… Yeah… You got me!!!”
Dengan hentakan keras penisnya melesak ke kerongkonganku dan letupan air maninya sukses membuatku tersedak dan penisnya terlepas dari mulutku, menyemburkan sisa sperma yang tak tertelan muncrat ke wajahku.
“Okey… kamu bener-bener keterlaluan DC! Kemarin dulu kamu menggigit bibirku sampai berdarah dan sekarang kamu malah menyemprotkan sperma ke wajahku… Do you have to make me upset to help you?” kataku sambil meragoh ke dalam tas tangan yang sempat kugantung di pintu, mencari tissue basah untuk membersihkan muka,
“Sorri Na! I didn’t mean to, okey?!” sahutnya, mengambil alih tissue basah dari tanganku dan mulai membantuku membersihkan diri.
Sesaat aku membiarkan DC melakukan itu dan bukan tanpa sadar aku melirik keadaan DC yang masih belum membetulkan celananya dan penis yang tadi telah dalam keadaan setengah ereksi karena telah mencapai klimaks kini telah tegak kembali padahal yang dia lakukan hanya membersihkan mukaku.
“Okey…kayaknya aku harus keluar! Kalau nggak Roy akan bingung kemana aku pergi?!”
“Not so fast honey!” DC mencekal pergelangan tanganku dan menarikku sampai terjatuh ke pangkuannya.
Aku terjatuh dengan badan membelakanginya, tubuhku menghadap pintu cubical dan dengan gerakan cepat dan cekatan, DC mengangkat kakiku dan melepaskan celana dalamku. Tanpa banyak kata dia membenamkan jarinya ke pangkal pahaku dan meringsek masuk, menggeliat mencari klitoris dan bibir vaginaku yang sudah basah banget hanya karena memberinya oral.
“Kamu kan belum puas!!”
“Stop it DC! Aku gak mau ML di toilet gini!”
Dengan kasar dia menelengkan kepalaku ke samping dan mencium bibirku dengan ganas. Tangan kanannya menahan wajahku dalam posisi itu sedangkan tangannya yang bebas mengocok vaginaku yang sudah terbuka lebar karena kakinya menahan kakiku tetap terbuka.
Pasrah, aku membiarkan DC mendorongku berdiri dengan posisi kaki mengangkang dan tangan bertumpu pada pintu. Aku tidak menduga gerakannya dan hal itu membuatku terkesiap keras saat dia memasuki tubuhku dengan sekali hentakan dari belakang.
“Oh DC…! Oh gosh… O my god!! Don’t do… That!!!” kataku gusar sambil mengatur napas yang amburadul,
“Ah… di dalam kamu anget banget Na!”
“Oh yeah… Jangan… cepet-cepet DC… umh…”
“Aku gak bisa pelan-pelan… Gak dengan cara… ini! Rasanya kayak vagina kamu pingin nelan penis aku… Oh god… Bear with me, Na!!” dengan itu DC langsung bergerak dengan kecepatan yang menggila, membuatku tak bisa menahan erangan dan teriakanku.
Rasanya aku sudah tak peduli jika ada orang yang masuk ke toilet atau lewat di depan sana dan bisa mendengar suara-suara penuh aroma sex ini. Dengan lengan-lengan DC yang kuat merengkuhku dari belakang, aku udah gak bisa mikir apa-apa lagi.
“DC oh God! Oh… Yeah… Oh fuck me!!”
“Nina… Panggil nama aku… Teriakin nama aku Na!”
“Simon… Oh yeah Simone…”
“Ah… Yeah… Siapa yang bikin kamu meronta-ronta begini, Na!”
“Lu Mon… Oh God… Yeah… I’m coming… Ogh Gosh…”
“Aku juga Na… Aku juga!!”
“SIIIMMM… Umph…” DC membungkam teriakanku dengan mulutnya yang keras, dia mengakhiri sex panas dan menghentak itu dengan satu letupan panjang dalam tubuhku.
“Kamu gak memerlukan Inggrit untuk merasakan kenikmatan, kan? Aku heran bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan itu?” tanyaku sambil membetulkan pakaian,
“Aku… akan memutuskan Inggrit hari ini juga!” katanya masih terduduk di toilet seat, lemas…
“That’s good!”
“Setelah itu… kamu mau jadi cewekku kan? Officially? Gak sembunyi-sembunyi kayak hubunganku dengan Inggrit!” tambahnya lagi sambil merengkuh dan memangkuku di pangkuannya,
“Simone…”
“Hm… Udah lama sejak aku dengar orang lain selain Inggrit menyebut namaku… Dan aku suka caramu memanggil namaku… dalam teriakan klimaksmu atau saat kamu memanggilku begini!!” katanya lagi sambil menciumku mesra,
“Hahahaha… Oh come on Simone…” kudorong tubuhnya sedikit menjauh hanya sampai aku bisa menarik resleting rokku sampai menutup,
“Aku serius… Jadi cewekku dan aku akan kasih apapun yang kamu mau…” rayunya saat aku sudah membuka pintu cubical,
“No… Aku gak bisa memonopoli dirimu untuk diriku sendiri, kasihan para fansmu itu… bisa bunuh diri semua nanti!”
“Ayolah Na… At least… jangan biarin ini jadi yang terakhir…” akhirnya dia bangkit dari seat dan berjalan keluar sambil membetulkan celananya,
“Hm… Aku bisa pertimbangkan itu… tapi untuk jadi cewekmu?! Nanti dulu!!”
“Okey… Okey… aku tahu kamu belum mau melepas kebebasan kamu!” katanya lagi sambil memberiku ciuman penuh hasrat yang singkat.
“See you… aku harus segera nemuin Roy sebelum dia mencak-mencak!”
Dengan itu… akupun keluar dari toilet itu menuju lorong di luar yang terlihat sangat lenggang.

