“Ough…!!” tak sengaja kakiku terpeleset dari pahanya karena gerakan tiba-tiba itu dan telak menekan penisnya dengan lumayan keras hingga membuatnya mengapitkan kakinya,
“Siang pak!” sapaku,
“Kamu kenapa Yan? Ada masalah?” tanya Pak Laksono melihat raut muka Tyan yang sedikit meringis,
“Ng… Nggak ada a… apa-apa pak!” kakiku masih dijepitnya dengan paha, jadi telapak kakiku masih menempel di celananya dan jari-jariku seolah terbenam di lekukan penisnya,
“Saya kira ruangan ini kosong!” kata Pak Laksono pelan, sudah jadi rahasia umum jika Bos kami ini selalu mencari tempat untuk merokok jika ada waktu luang,
“Saya sedang membantu Pak Tyan untuk mempersiapkan materi pengajaran untuk pelatihan dan presentasi minggu depan, Pak!” jawabku saat melihat rasa penasaran beliau melihat kami hanya berdua.
Aku merasakan tekanan pada kakiku sedikit mengendur, namun aku takkan membiarkan kesempatan untuk mengerjainya ini terlepas begitu saja. Perlahan… aku menambahkan tekanan pada kakiku dan menikmati matanya yang mengerjap kaget.
“Ah… Iya! Proyek dengan label La Roses itu ya?! Ah… itu bikin saya ingat! Tyan… bisa bantu saya mengantarkan dokumen persetujuan yang harus ditanda tangani pak Rudy?” Pak Laksono menanyakan kesediaan Tyan, walaupun sebenarnya jika itu keluar dari Pak Laksono akan jadi sebuah perintah,
“Bisa pak! Apa setelah ditanda tangani langsung dibawa kesini lagi?” tanyanya sedikit terlalu antusias karena melihat kesempatan untuk lari dari lubang yang digalinya sendiri,
“Iya! Setelah dari sana kalian langsung pulang aja! Besok baru dibawa ke kantor!” lanjut Pak Boss,
“Tapi Pak?! Sama Nina?” Tyan baru sadar maksud perintah itu bukan hanya untuknya tapi juga untukku,
“Iya… mobil kantor kan dibawa ke luar kota semua… Jadi kamu bisa pinjam mobil Nina…” kata Pak Laksono sambil keluar dari ruang rapat dan menutup pintunya dari luar,
“Selamat siang Pak!!” sahutku pelan saat Pak Laksono keluar, “Jadi keluar?!” tanyaku sambil menggoyangkan kunci mobilku di depannya.
Setelah Pak Laksono keluar, Tyan langsung berdiri dari kursinya dan wajahnya seolah-olah menyerukan kata-kata yang ditahannya dalam mulut, ‘APA-APAAN KAMU?!’. Namun rupanya dia tak jadi melemparkan kata-kata itu.
Karena itu kini ketika aku dan dia ada di dalam ruang sempit bernama mobil dia jadi lebih banyak diam. Kura-kura itu telah menyembunyikan kepalanya di dalam tempurung.
Aku berinisiatif untuk mendiamkannya dan membiarkannya asyik dengan pikirannya sendiri. Membuatnya sedikit santai dan kembali membuka diri. Tidak membutuhkan waktu lama rupanya. Saat pulang aku mengajukan diri untuk menyetir karena kulihat dia sedikit mengantuk.
Kami hanya duduk sebentar setelah melakukan perjalanan Surabaya-Batu dan tak sempat beristirahat jadi wajar saja jika dia jadi mengantuk. Aku biarkan saja dia duduk dengan pandangan menerawang sampai kami melewati area padat. Sengaja lebih memilih jalur bawah daripada harus melewati tol yang pastinya sangat padat. Tiba-tiba… aku mendapat ide yang sangat briliant… Ada sebuah tempat yang aku tahu dari temanku. Sebuah tempat yang bagus dan sedikit nempil di tempat sepi.
“Kamu mau belok kemana?” tanyanya sambil membetulkan posisinya,
“Aku tahu jalan alternative. Di depan sana ada perempatan yang macet banget!” kataku sambil mengarhkan mobil masuk jalan desa,
“Tapi ini tempat sepi… Balik ke jalan besar aja!” kata Tyan tak setuju,
“Gak papa… jalannya aman kok!!”
Akhirnya dia menyerah dan membiarkanku menyetir dengan tenang. Tempat yang aku tuju sudah tak jauh dari sana dan rumah penduduk disini bisa dibilang sangat jarang. Kulirik Tyan yang sedang duduk tenang di sebelahku, tangannya terkulai di atas perutnya, napasnya teratur. Perlahan aku memindahkan tanganku yang ada di persneling ke atas pahanya.
Dia sedikit terkejut karena gerakan itu, namun tak berusaha menyingkirkan tanganku. Mungkin dia ingin melihat sampai sejauh apa aku mau menjahilinya. Dia hanya menatap tanganku dengan pandangan tak percaya.
Aku mulai berani karena reaksinya, kuremas kecil pahanya sebagai tanda, lalu aku mulai membelai pahanya dari luar bahan celananya dan semakin naik ke atas ke arah pangkal pahanya.
“That’s enough Na… Kalau kamu cuma mau tahu apa aku biseks atau bukan rasanya kamu sudah tahu jawabannya dari tadi siang saat kita masih di ruang rapat kan?”
“Hell yeah… Gak ada gay yang bisa ereksi sekeras itu terhadap cewek!” kataku sambil cekikikan, “Bahkan dua kali dalam sehari!”
“Argh…” desahannya terlepas dari mulutnya, “Apa-apaan kamu, Na? Ini masih dijalan!”
“Its okey! Gak ada yang liat kok!” ku kocok penisnya yang sudah ereksi dengan satu tangan dan menikmati desahannya yang tertahan dan keluar sebagai desis dari sela giginya,
“STOP IT, NA!”
Aku langsung meminggirkan mobil ke tempat yang aku maksud dan berbalik menghadapi cowok gay yang sedang sangat kesal itu and stare him right in the eye.
“Okey… But you’ll do me!” kuraih tangan kanannya dan kuletakkan di dadaku.
“GILA APA?!” serunya sambil berusaha menarik tangannya,
“Aku heran deh ama kamu… sebenarnya apa yang membuat kamu takut?”
“Gue dah punya cowok Na…! dan aku akan married ama dia! Kalau gue ML ma lu… itu artinya jalan satu arah buat gue… No way return… Gue akan terus jadi bi dan ngekhianatin cowok gue!”
Beberapa detik aku terdiam… ini gak akan semakin mudah.
“Just once… no one hurt… for the past?? please…” rengekku dan ketika dia lengah aku membawa tangannya ke balik rok dan menyelipkan jarinya masuk ke balik CD dan menyentuh kemaluanku yang basah, sukses membuatnya kembali tersentak.
“Gue dah se- desperate ini lho… masa’ lu tega biarin gue sampai kayak gini karena kamu Yan?”
Just that simple and gue bisa menikmati raut wajahnya ketika kendali itu lepas… It just snatched!! Tangan kanannya masih berada di balik rokku dan tangan kirinya menutup wajahnya sendiri… disisirkannya jemari itu ke rambutnya dan mengacak-ngacak rambut yang tersisir rapi, mungkin berharap otaknya sekacau rambutnya sekarang. “Sekarang gue tahu kenapa Romy nyuruh gue ngehindarin kamu… Kamu emang iblis kecil, Na!” aku sedikit tersentak mendengar Tyan menyebut nama itu, tapi keterkejutanku tak lama karena sesaat kemudian Tyan sudah merangsek ke arahku dan menciumku dengan ciuman yang penuh dengan kekesalan karena kalah oleh rayuanku.
“Umh… Ugh…” desahanku terbungkam oleh mulutnya, jari-jarinya masih berada dibalik cd-ku dan membuat kakiku tak bisa diam gemetar.
Satu tangannya meremas payudaraku dengan gemas, sementara aku membantunya dengan melepaskan resleting di bagian depan bajuku. Sejenak kemudian dia sudah melumat dadaku dengan mulutnya yang rakus.
“Do it now, Yan! Lakuin sekarang!” kataku berbisik di telinganya, permintaan itu membuat tubuhnya kaku, namun aku takkan membiarkan dia kembali ke dalam cangkang tebalnya semudah itu.