Chapter VII bagian a HERE COMES THE DJ

CHAPTER VII

HERE COMES THE DJ

Apa yang bisa aku lakukan selain siap sedia membantu jika salah seorang sahabatku meminta pertolongan?! Jelas sekali Roy adalah salah satu dari sahabat-sahabat terbaikku di dunia. Pagi ini Roy menelponku dan membangunkanku dari satu-satunya tidur nyenyakku selama 1 minggu ini dan meminta tolong tentang masalah keluarga yang dihadapinya.

Selama ini aku sangat dekat dengan adik perempuannya dan ternyata sudah beberapa hari ini gadis itu minggat dari rumah. Roy berpendapat kalau aku adalah orang yang paling dekat dengan gadis itu karena itu dia memintaku untuk datang ke tempat kerjanya hanya demi bisa berbicara sebentar tentang masalah adiknya.

Untungnya… saat ini pacarku yang paling awet dalam beberapa bulan ini sedang tidak ada di kota. Praktis malam-malamku jadi sedikit kesepian. Tak ada salahnya menemani teman yang sedang membutuhkan tempat bicara. Semoga Dika tidak pernah tahu bagaimana bentuk persahabatanku dan Roy. (baca di chapter 1)

Begitu keluar dari gedung tempat kantorku berada, aku langsung mengarahkan mobil ke belahan kota yang lain tempat gedung-gedung pemerintahan berada. Hmm… gedung kantornya nempil di pojokan gedung-gedung tinggi. Sebuah radio swasta yang ada di Surabaya.

Kuparkir mobil di depan pintu masuk gedung dan tanpa menunggu lama langsung masuk ke dalam, menaiki anak tangga sampai ke lantai 4. Belum juga aku sampai di lantai 2 Hpku bunyi.

Iya Roy… aku dah di lantai 2 kok…” kataku padanya sambil mengatur napas,

Aku masih di luar Na… Habis makan malam… Kamu naik aja ya! Tunggu di ruanganku aja!” katanya dengan suara angin kencang di belakangnya,

Okey! Aku tunggu deh!” sahutku mendadak lega karena aku gak perlu terburu-buru menaiki anak tangga yang jumlahnya mungkin ada lebih dari seratus biji.

Sedikit lebih santai aku menaiki tangga, tak lama kemudian terdengar suara berderap dari lantai bawah. Seseorang berlari menaiki tangga.

Nina! Lagi disini? Tumben amat?” sapanya dengan napas yang sangat teratur, tak terlihat seperti habis berlari di tangga 2 tingkat,

Hai DC… sehat banget ya?!” kataku mencoba menahan napasku yang tak beraturan,

Hahaha… iya dong… gue kan gak bisa olahraga pagi jadi kalau malam musti banyak gerak! Mau nemuin Roy?” tanyanya lagi,

Yup!!”

Okey… aku duluan ya!” sahutnya lagi saat menyadari aku membutuhkan sedikit istirahat sebelum mulai menaiki tangga lagi,

Yeah…”

DC adalah singkatan dari Demon Cross. Seorang DJ kawakan di Surabaya. Aku mengenalnya saat Roy ngajakin dugem di tempat dugemnya anak-anak muda Surabaya. BOXES memang termasuk tempat dugem elit. DJ-DJnya terkenal sebagai DJ paling digandrungi dan DC adalah DJ tetap disitu.

Sambil berjalan menaiki tangga yang banyaknya gak ketulungan, aku mencoba mengingat detail perkenalan kami sekitar beberapa bulan yang lalu.

DC terlibat sebuah affair dengan boss radio ini, Inggrit Atmadja. Bu Inggrit bisa dibilang adalah tante-tante yang sangat pintar merawat diri. Pada usianya yang sudah kepala 4 dia berhasil menundukkan seorang cowok macho dan pujaan banyak cewek seusianya dan bahkan yang dibawahnya. DC benar-benar terpikat akan kebohongan-kebohongan dan tipu daya Bu Inggrit.

Aku tahu hubungan mereka karena tepatnya 4 bulan yang lalu aku memergoki DC dan Bu Inggrit sedang berciuman dengan sangat mesra di dalam toilet wanita. Aku juga heran bagaimana mereka bisa menyembunyikan ini semua dari orang sekantor jika aku yang bahkan bukan orang kantor ini bisa mencium hubungan mereka itu. Beberapa kali juga aku melihat mereka bertengkar dan detail-detail pertengkaran itu mau tak mau juga tertangkap oleh telingaku.

Sesampainya di lantai 4 aku menyadari keadaan yang anehnya terlihat sangat sepi.Biasanya ada security yang akan mondar-mandir dari lantai ke lantai, tapi tidak hari ini. Kulihat jam tanganku, waktu masih menunjukkan jam 6 lebih sedikit. Harusnya ada banyak penyiar di jam-jam ini yang stand by. Acara siang baru selesai dan acara selanjutnya akan disiapkan. Tapi… aku tak melihat siapapun di jangkauan penglihatanku. Ruangan Roy ada di ujung lorong dengan pintu paling semarak dengan notes warna-warni. Permintaan dari koleganya untuk membetulkan peralatan yang rusak atau mengalami gangguan. Belum juga aku sampai di depan pintu ruangannya, aku mendengar suara-suara dari ruang studio yang berada beberapa pintu dari ruangan Roy.

Penasaran dengan suara-suara itu aku pun berjingkat mendekati pintu studio. Studio itu dirancang kedap suara, untungnya pintunya juga didesain untuk tidak mengeluarkan suara ketika dibuka sehingga dengan mudah aku mendorong sedikit untuk membuat celah agar aku bisa mengintip dan mendengar siapa yang ada di dalam.

Normalnya aku akan langsung membukanya lebar-lebar tanpa menimbulkan suara apapun yang akan mengganggu proses pengambilan suara apapun yang terjadi di balik pintu itu. Namun kali ini, aku sangat yakin bahwa apa yang terjadi dalam studio itu benar-benar di luar konteks profesionalitas.

Benarlah perkiraanku, disana di tengah ruangan itu berdiri 2 sosok pria dan wanita dengan pose yang bisa dibilang sangat tidak dibenarkan dalam dunia profesionalitas ataupun dunia kesopanan. Inggrit dan DC sedang berciuman dengan sangat mesra tanpa memperdulikan dimana mereka berada. Inggrit menyandar pada meja operator dengan satu kakinya membelit paha DC dengan erat membuat roknya tersingkap lebih tinggi dan DC sedang mencumbu bibir dan lehernya bergantian.

Tiba-tiba ciuman mereka berhenti, aku menyangka DC menyadari kehadiranku karena itu dia berhenti namun ternyata…

Seharusnya kamu gak tinggalin aku 2 minggu ini!” katanya sambil membelai rambut Inggrit yang panjang sampai ke punggung,

Oh ayolah Simon… Apa ini masih mengenai kepergianku ke Jakarta? Harusnya kamu mengerti, Simon… Aku ini istri Rodi! Sudah sewajarnya aku mengikuti Rodi ke undangan itu. Kami berdua diundang sebagai suami istri!” jawab Inggrit dengan aksennya yang khas, karena pernah beberapa tahun tinggal di London,

Tapi kamu kekasihku Inggrit!” sahut DC sambil mencumbu pangkal lehernya,

Apa maksud kata-kata kamu?” tanya Inggrit sambil menjauhkan bibir DC dari tubuhnya, mungkin agar dia bisa berpikir jernih,

Sudah saatnya Grit! Ceraikan Rodi! Hiduplah bersamaku!” kata DC dan tidak hanya berhasil membuat Inggrit tercengang… tapi juga aku,

Kamu gila, Simon!” sahut Inggrit, akhirnya benar-benar menjauhkan diri dari DC walaupun tidak terlampau jauh,

Nggrit… aku benar-benar sayang kamu! Tinggallah denganku… Sebagai istri ataupun kekasih. Terserah kamu! Aku gak akan memperlakukan kamu seperti Rodi memperlakukan kamu selama ini!”

Aku mencintai kamu Mon! Tapi aku gak bisa menceraikan Rodi! Mengertiah sayang…” kata Inggrit sambil maju lagi dan berusaha mencium bibir DC.

Namun rupanya, DC sudah bertekad… kali ini Inggrit harus mengikuti apa yang dia katakan atau wanita itu akan kehilangan dia. Dikibaskannya tangan yang membelai rahangnya dan didorongnya Inggrit sejauh jangkauan tangannya.

Keluar!”

Mon…” Inggrit mencba merajuk, namun DC rupanya benar-benar sudah bulat tekad,

KELUAR!!!”

Menyadari tak lama lagi Inggrit akan keluar dari studio itu dan pastinya akan menangkap basah aku yang mencuri dengar. Maka akupun langsung berlari kecil meninggalkan ambang pintu dan bersembunyi di balik pilar tak jauh dari sana.

Begitu aku melihat Inggrit keluar dengan wajah kaku dan masam, aku langsung berjingkat melewati pintu studio yang masih terbuka. Berharap DC tak melihatku. Yah… harapan tinggal harapan. Suara DC memanggil namaku langsung menghentikan langkah-langkahku.

Hai D!” sapaku sedikit canggung,

Punya penjelasan kenapa kamu menguping pembicaraan?” tanyanya sambil berpura-pura membereskan meja operator,

Well… I didn’t mean it! Aku cari Roy di ruangannya tapi tak ada. Aku bermaksud untuk menanyakannya pada seseorang tapi tak ada siapapun di lobby dan di main studio. Aku mendengar suara dari sini dan hendak bertanya… tapi ternyata…”

We know better than that!” sergahnya sebelum aku selesai bicara, “Tapi udahlah… aku lagi malas berdebat!”

Aku sudah akan keluar saat aku menangkap dari ekor mataku… Sosok DC yang membelakangiku terlihat sedikit bergetar. Dari belakang figurnya terlihat sangat menyedihkan. Sosok orang yang kalah.

Kenapa DC bisa jadi sangat berubah begini? Hanya karena seorang Inggrit? Bagaimana mungkin dia bisa begitu mencintai seorang wanita yang sudah berstatus istri orang dan merana karenanya?

Sedikit ragu pada awalnya, bukannya segera keluar dan menemui Roy… Aku malah berbalik dan melangkahkan kaki kembali mendekatinya… dan menggali kuburanku sendiri.

Benar-benar selingkuhan yang tak tahu dimana posisinya berada!” sahutku sambil bersedekap, memandanginya dari belakang,

Apa maksud kamu? Kamu gak tahu apa-apa tentang hubunganku dan dia!” katanya tanpa berusaha untuk melihatku,

Kamu benar… Aku gak tahu apa-apa tentang hubungan kalian. Tapi hanya satu yang aku yakin dari hubungan kalian…” DC melirik ke arahku dengan enggan namun penasaran dengan apa yang ingin aku katakan, “Dia tidak mencintaimu DC!”

Diam kamu, Nina!” katanya memperingatkan, bisa aku lihat percikan itu muncul di matanya,

Dan apa yang kamu anggap cinta itu gak lebih hanyalah sebuah permainan bagi Inggrit…” lanjutku sambil meraih sebuah pita sutra berwarna putih yang terjatuh di lantai, “Tentu saja dia takkan menceraikan Rodi… Karena Rodi-lah yang memiliki apa yang dicintai oleh Inggrit!”

DIAM!!! DIAM KAMU NINA ALMEIRA!!” kalap, DC berteriak sambil menyambar pita yang ada dalam genggamanku,

Aku akan diam, DC! Tapi suara hatimu benar-benar berisik!”

Hanya dengan satu langkah DC berhasil meraih lenganku dan menyentakkanku mendekat padanya. Sebuah dorongan yang sekuat tenaga dilakukannya menghimpitku di pojok ruangan, berada diantara tembok kokoh berlapis karpet tebal dan tubuh DC yang liat dan keras.

Mata kami beradu dengan sengit, matanya penuh dengan kemarahan dan kekesalan, aku pun mengimbangi tatapannya dengan tak kalah tajam.

Aku benar DC… Kamu tahu apa yang aku katakan itu benar!” sahutku setelah susah payah menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku,

Diam Na!” ancamannya keluar dalam bentuk desis tajam karena dia menahan diri dengan mengatupkan giginya,

Inggrit tak pernah menci…”

Detik berikutnya yang aku tahu adalah DC menciumku dengan ganasnya. Bibirnya mengambil apapun yang bisa diambil olehnya. Lidahnya seolah menghukumku atas kelancanganku bicara. DC melampiaskan semua kemarahan dan kesedihannya padaku dan aku berusaha bekerja sama dengannya. Mengimbangi gairah dan kemarahannya yang membakar dirinya perlahan dari dalam.

Ciuman itu berakhir dengan tiba-tiba, sama mendadaknya dengan saat dimulai. Sebuah gigitan mengakhiri kegilaan DC. Dia benar-benar terkejut melihatku berdiri disitu dengan tampang acak-acakan dan bibir berdarah.

Nina… Aduh… Sorry Na!” katanya bingung sendiri dengan pelampiasan kemarahannya padaku,

Sejenak tadi kamu mengira aku Inggrit kan?” tanyaku sambil membetulkan rambutku yang sudah acak-acakan,

Maaf Na!”

It’s okey D! Feeling much better now? Setelah melampiaskan semua kekesalan kamu?” tanyaku lagi beralih pada pakaian kerjaku yang terlihat kusut,

Kamu sengaja?!” DC terkejut dengan pernyataanku itu,

Aku gak bisa biarin kamu meneteskan airmata demi cewek gak tau diri macam Inggrit!” kataku lagi, seolah mengatakan hal itu cukup untuk menjelaskan keberanianku untuk mengusik macan yang terluka ini,

Karena itu kamu mancing aku unt…”

Saat DC masih termenung aku menyelinap keluar dan menuju pintu ruangan Roy yang terbuka, rupanya sahabatku itu sudah menungguku disana dengan cengirannya yang khas.

Kaitkata: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.