<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nina Almeira Novel dan Cerita Seru</title>
	<atom:link href="http://ninaalmeira.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ninaalmeira.wordpress.com</link>
	<description>place to find some material for your fantasy...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Oct 2011 01:59:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ninaalmeira.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Nina Almeira Novel dan Cerita Seru</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ninaalmeira.wordpress.com/osd.xml" title="Nina Almeira Novel dan Cerita Seru" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ninaalmeira.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>CHAPTER VII bagian b HERE COMES THE DJ</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2010/04/26/chapter-vii-bagian-b-here-comes-the-dj/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2010/04/26/chapter-vii-bagian-b-here-comes-the-dj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 14:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[nina_almeira chap 7]]></category>
		<category><![CDATA[almeira]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[nina]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>
		<category><![CDATA[simon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[“Aku gak berani gangguin kalian&#8230; karena sepertinya kalian berdua sedang dalam problem serius&#8230;” katanya sambil mengambil tissu dan melangkah mengitari meja untuk menyeka darah yang masih mengalir dari luka di bibirku, “Aku baru tahu kalau kamu ama DC ada sesuatu seperti itu!” “Bukan seperti apa yang kamu pikirkan!” kataku sambil mengambil tempat duduk di depannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=124&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --> <!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --> <!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } -->“<span style="font-size:medium;">Aku gak berani gangguin kalian&#8230; karena sepertinya kalian berdua sedang dalam problem serius&#8230;” katanya sambil mengambil tissu dan melangkah mengitari meja untuk menyeka darah yang masih mengalir dari luka di bibirku, “Aku baru tahu kalau kamu ama DC ada sesuatu seperti itu!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Bukan seperti apa yang kamu pikirkan!” kataku sambil mengambil tempat duduk di depannya dan membiarkan Roy membersihkan luka di bibirku,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku hanya bingung kenapa adegan teriak-teriak itu bisa menyebabkan kalian berdua&#8230; Hmmm&#8230;” Roy memberi jeda, bingung bagaimana menamai apa yang dilihatnya tadi, “<em>Biting each other?!</em>”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Kalau kamu masih mau ngomongin itu mending kamu say bye-bye ama masalah keberadaan adik lu!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">^%$#@\</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Akhirnya setelah beberapa hari menunggu, Dina menelponku. Tepat seperti dugaanku, dia lari dari rumah dibantu teman ceweknya. Beberapa hari sebelum dia pergi, Dina dan Kakaknya sempat cekcok besar karena masalah Dina yang mengakui dirinya lesbian. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Tentu saja Roy marah besar, bagaimana tidak&#8230; Dina yang umurnya tak terpaut jauh dengan Roy itu telah dijodohkan oleh orang tuanya yang pemilik pesantren dengan salah satu murid bapaknya. Roy benar-benar pusing memikirkan cara bagaimana menjelaskan kepada orang tuanya tentang keadaan Dina. Sedangkan Dina yang panik, malah memilih kabur dari rumah bersama pacarnya. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Aku sudah berhasil meluruskan kesalah pahaman antara adik-kakak ini dan Dina sudah bersedia untuk pulang. Pada dasarya memang dia dan Roy sangat dekat hubungannya. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Sudah 4 hari lamanya aku menghindar untuk menemui Roy di studio karena aku tahu&#8230; luka di bibir itu pasti akan mengundang banyak pertanyaan. Malas melayani pertanyaan-pertanyaan itu, maka aku putuskan untuk tidak datang sampai luka itu sembuh benar.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Jadilah hari itu aku kembali menaiki anak tangga yang sangat panjang itu untuk sampai di kantor Roy yang ada di lantai 4. Aku sudah hampir sampai di lantai teratas itu ketika kulihat sosok DC sudah menantiku di ujung tangga.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Hai, Na!” sapanya sambil nyengir,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Hai&#8230;” sapaku balik masih sedikit ngos-ngosan,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Na&#8230; aku&#8230;” dia mencoba untuk bicara, </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Bisa tolong biarkan aku tarik napas dulu? Aku benar-benar berpikir naik turun tangga itu olahraga, tapi apa kalian tidak merasa itu mengurangi efektifitas kerja?! <em>Build a lift guys&#8230; or at least escalator!</em>” kataku sambil menghempaskan tubuhku di sofa di lobby radio,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Ntar&#8230; Kalau ada duitnya!” jawabnya sambil nyengir,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Tau darimana aku datang? Apa sekarang kalian pasang CCTV?” tanyaku lagi pada DC yang sudah mengambil tempat duduk di depanku,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku tahu dari Roy&#8230;” sahutnya pelan,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Ah&#8230; Jadi&#8230; gimana keadaan kamu ma Inggrit? Dah baikan?” tanyaku padanya tanpa basa-basi,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Dia udah berangkat ke Jakarta&#8230; 3 minggu baru balik!” </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Kuamati raut wajah DC yang menjadi muram karena pertanyaan itu. Dia menggigit bibir dan menatapku dibalik matanya yang redup.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Uhuh&#8230;” aku hanya menggumam maklum,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Na&#8230; Gue gak bisa tanpa Inggrit&#8230; Cuma Inggrit yang bisa bikin aku kayak gini&#8230;” katanya sambil menyisir rambutnya dengan jari-jarinya yang panjang,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Pastinya! Cuma Inggrit yang bisa bohongin kamu sampai kayak gini!” kataku sambil berdiri dan berjalan menyusuri lorong untuk ke ruangan Roy,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku mencintainya, Nina!! Dan aku gak akan bisa mencintai orang lain&#8230;” dengan sangat cepat DC berdiri dan memotong jalan, menghentikan langkahku,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Itu bukan cinta DC&#8230; itu kegilaan!!” kataku sambil mencoba menyingkirkan DC dari lorong itu,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku bahkan gak akan bisa terpuaskan ama cewek lain&#8230;” katanya setengah berteriak setengah berbisik,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;"><em>Now you&#8217;re getting way&#8230; too much!!</em> Lu mau bikin gue gila ya?!” kataku sambil berbalik ke arahnya dan aku sangat putus asa, “Denger ya, DC&#8230; Kamu gak perlu Inggrit untuk melanjutkan hidup kamu. Lebih gak butuh lagi hanya untuk memuaskan gairahmu! Lu kira ada berapa banyak cewek yang akan dengan senang hati mempraktekan keahlian mereka memuaskan cowok dengan kamu sebagai objeknya?”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Tapi gak akan sama seperti Inggrit!” katanya lagi.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Kesal, putus asa dan luar biasa kesal dengan semangat DC yang begitu lembek aku langsung menarik DC tanpa pikir panjang, melewati pintu kantor Roy yang tertutup dan memasuki daerah belakang yang memang jam segini sangat jarang dimasuki kecuali untuk orang-orang yang mau ke toilet.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Na&#8230; Mau kemana?”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Sekali lagi aku bilang ama kamu! Kamu gak perlu Inggrit untuk bisa memuaskan diri kamu!” </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Dengan sekuat tenaga kudorong tubuh besar DC masuk ke salah satu cubical toilet di ladies room itu dan menutup pintu cubical dibelakangku.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Na! Gila lu! Ngapain disini?”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Sshhh&#8230; ada orang masuk! Mending kamu diem aja&#8230; Kalau gak, kamu siap-siap aja digebukin cewek-cewek itu!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Tak lama kemudian masuklah 3 orang cewek yang gak aku kenal ke dalam ladies room itu dan mereka bergerombol di depan deretan cermin dan wastafel.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Dengan pandangan mata menantang aku menatap mata DC&#8230; Disana ada sedikit kepanikan melanda. Tak menunggu lama, aku langsung menciumnya tanpa aba-aba. Awalnya perlahan dan lembut, namun lama kelamaan kutambahkan tekanan pada bibirku. Kupindahkan tanganku yang masih menggandeng tangannya yang besar dan kokoh perlahan dan pasti mengarah ke tengkuknya yang terbuka.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Kurasakan kesadarannya mulai melayang jauh bersamaan dengan diletakkannya telapak yang panas itu di punggungku dan panasnya menembus bahan kain dari pakaianku.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Ehm&#8230; Ah&#8230; Unnn”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Eh kamu kemarin ketemu ama&#8230;”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Yang ada di sana itu&#8230;”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Sumpah keren banget deh si Der&#8230;”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Salah satu tanganku menuju ke resleting celana jeansnya, tanpa suara aku membuka ikat pinggangnya dan menurunkan resletingnya. Bisa kurasakan napasnya tercekat sejenak, dia langsung menangkap tanganku dan melepaskan ciumannya.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Namun aku tak mau kalah dengan penolakannya yang aku tahu sebenarnya dilakukan dengan ragu-ragu. </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku sarankan untuk kamu menutup mulut kamu!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Tanpa aba-aba aku langsung mengeluarkan penisnya yang setengah tegang masuk ke dalam mulutku dan berpesta, erangan dan desahan tertahan dari bibir DC yang terbungkam telapak tangannya sendiri justru membuatku semakin semangat. Beberapa menit kemudian, dia sudah bingung harus meletakkan tangannya dimana. Dari pperhitunganku, saat ini dia sudah berasda di ujung ketahanannya, namun dengan keadaan saat itu dimana 3 orang cewek itu belum juga keluar dari toilet mebuatnya tak bisa berbuat bebas dan melepaskan kendali dirinya. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Untungnya tak lama kemudian salah satu dari cewek itu harus menerima telpon dari seseorang dan karena sinyal penerimaan di bagian belakang gedung ini sangat jelek dia harus pindah ke bagian lobby dan hal ini tentu saja diikuti oleh kedua temannya. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Akhirnya melepaskannya satu tangan yang awalnya membekap mulutnya sendiri dan memindahkannya ke bagian belakang kepalaku, di cengkeramnya rambutku dan memaju mundurkan pinggulnya membuat penisnya keluar-masuk mulutku dengan sedikit lebh cepat. Tangannya yang satu lagi menahan tubuhnya agar tak roboh karena kenikmatan yang menyerang saraf otaknya.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Ough God!! kamu bener-bener cari gara-gara, Na!! What are you thinking you doing dengan melakukan itu semua?!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Ough yes&#8230; Ugh&#8230; enak banget Na! You&#8217;re so good in it!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Gue mau keluar Na!! You have to swallow it all&#8230; Yeah&#8230; You got me!!!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Dengan hentakan keras penisnya melesak ke kerongkonganku dan letupan air maninya sukses membuatku tersedak dan penisnya terlepas dari mulutku, menyemburkan sisa sperma yang tak tertelan muncrat ke wajahku.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Okey&#8230; kamu bener-bener keterlaluan DC! Kemarin dulu kamu menggigit bibirku sampai berdarah dan sekarang kamu malah menyemprotkan sperma ke wajahku&#8230; Do you have to make me upset to help you?” kataku sambil meragoh ke dalam tas tangan yang sempat kugantung di pintu, mencari tissue basah untuk membersihkan muka,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Sorri Na! I didn&#8217;t mean to, okey?!” sahutnya, mengambil alih tissue basah dari tanganku dan mulai membantuku membersihkan diri.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Sesaat aku membiarkan DC melakukan itu dan bukan tanpa sadar aku melirik keadaan DC yang masih belum membetulkan celananya dan penis yang tadi telah dalam keadaan setengah ereksi karena telah mencapai klimaks kini telah tegak kembali padahal yang dia lakukan hanya membersihkan mukaku.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Okey&#8230;kayaknya aku harus keluar! Kalau nggak Roy akan bingung kemana aku pergi?!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Not so fast honey!” DC mencekal pergelangan tanganku dan menarikku sampai terjatuh ke pangkuannya.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Aku terjatuh dengan badan membelakanginya, tubuhku menghadap pintu cubical dan dengan gerakan cepat dan cekatan, DC mengangkat kakiku dan melepaskan celana dalamku. Tanpa banyak kata dia membenamkan jarinya ke pangkal pahaku dan meringsek masuk, menggeliat mencari klitoris dan bibir vaginaku yang sudah basah banget hanya karena memberinya oral. </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Kamu kan belum puas!!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Stop it DC! Aku gak mau ML di toilet gini!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Dengan kasar dia menelengkan kepalaku ke samping dan mencium bibirku dengan ganas. Tangan kanannya menahan wajahku dalam posisi itu sedangkan tangannya yang bebas mengocok vaginaku yang sudah terbuka lebar karena kakinya menahan kakiku tetap terbuka.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Pasrah, aku membiarkan DC mendorongku berdiri dengan posisi kaki mengangkang dan tangan bertumpu pada pintu. Aku tidak menduga gerakannya dan hal itu membuatku terkesiap keras saat dia memasuki tubuhku dengan sekali hentakan dari belakang. </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Oh DC&#8230;! Oh gosh&#8230; O my god!! Don&#8217;t do&#8230; That!!!” kataku gusar sambil mengatur napas yang amburadul,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Ah&#8230; di dalam kamu anget banget Na!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Oh yeah&#8230; Jangan&#8230; cepet-cepet DC&#8230; umh&#8230;”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku gak bisa pelan-pelan&#8230; Gak dengan cara&#8230; ini! Rasanya kayak vagina kamu pingin nelan penis aku&#8230; Oh god&#8230; Bear with me, Na!!” dengan itu DC langsung bergerak dengan kecepatan yang menggila, membuatku tak bisa menahan erangan dan teriakanku. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Rasanya aku sudah tak peduli jika ada orang yang masuk ke toilet atau lewat di depan sana dan bisa mendengar suara-suara penuh aroma sex ini. Dengan lengan-lengan DC yang kuat merengkuhku dari belakang, aku udah gak bisa mikir apa-apa lagi.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">DC oh God! Oh&#8230; Yeah&#8230; Oh fuck me!!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Nina&#8230; Panggil nama aku&#8230; Teriakin nama aku Na!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Simon&#8230; Oh yeah Simone&#8230;”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Ah&#8230; Yeah&#8230; Siapa yang bikin kamu meronta-ronta begini, Na!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Lu Mon&#8230; Oh God&#8230; Yeah&#8230; I&#8217;m coming&#8230; Ogh Gosh&#8230;”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku juga Na&#8230; Aku juga!!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">SIIIMMM&#8230; Umph&#8230;” DC membungkam teriakanku dengan mulutnya yang keras, dia mengakhiri sex panas dan menghentak itu dengan satu letupan panjang dalam tubuhku. </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Kamu gak memerlukan Inggrit untuk merasakan kenikmatan, kan? Aku heran bagaimana kamu bisa sampai pada kesimpulan itu?” tanyaku sambil membetulkan pakaian,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku&#8230; akan memutuskan Inggrit hari ini juga!” katanya masih terduduk di toilet seat, lemas&#8230;</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">That&#8217;s good!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Setelah itu&#8230; kamu mau jadi cewekku kan? Officially? Gak sembunyi-sembunyi kayak hubunganku dengan Inggrit!” tambahnya lagi sambil merengkuh dan memangkuku di pangkuannya,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Simone&#8230;”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Hm&#8230; Udah lama sejak aku dengar orang lain selain Inggrit menyebut namaku&#8230; Dan aku suka caramu memanggil namaku&#8230; dalam teriakan klimaksmu atau saat kamu memanggilku begini!!” katanya lagi sambil menciumku mesra,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Hahahaha&#8230; Oh come on Simone&#8230;” kudorong tubuhnya sedikit menjauh hanya sampai aku bisa menarik resleting rokku sampai menutup,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku serius&#8230; Jadi cewekku dan aku akan kasih apapun yang kamu mau&#8230;” rayunya saat aku sudah membuka pintu cubical,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">No&#8230; Aku gak bisa memonopoli dirimu untuk diriku sendiri, kasihan para fansmu itu&#8230; bisa bunuh diri semua nanti!” </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Ayolah Na&#8230; At least&#8230; jangan biarin ini jadi yang terakhir&#8230;” akhirnya dia bangkit dari seat dan berjalan keluar sambil membetulkan celananya,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Hm&#8230; Aku bisa pertimbangkan itu&#8230; tapi untuk jadi cewekmu?! Nanti dulu!!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Okey&#8230; Okey&#8230; aku tahu kamu belum mau melepas kebebasan kamu!” katanya lagi sambil memberiku ciuman penuh hasrat yang singkat.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">See you&#8230; aku harus segera nemuin Roy sebelum dia mencak-mencak!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Dengan itu&#8230; akupun keluar dari toilet itu menuju lorong di luar yang terlihat sangat lenggang.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=124&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2010/04/26/chapter-vii-bagian-b-here-comes-the-dj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Chapter VII bagian a HERE COMES THE DJ</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2010/04/26/chapter-vii-bagian-a-here-comes-the-dj/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2010/04/26/chapter-vii-bagian-a-here-comes-the-dj/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 14:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[nina_almeira chap 7]]></category>
		<category><![CDATA[almeira]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[nina]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>
		<category><![CDATA[simon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[CHAPTER VII HERE COMES THE DJ Apa yang bisa aku lakukan selain siap sedia membantu jika salah seorang sahabatku meminta pertolongan?! Jelas sekali Roy adalah salah satu dari sahabat-sahabat terbaikku di dunia. Pagi ini Roy menelponku dan membangunkanku dari satu-satunya tidur nyenyakku selama 1 minggu ini dan meminta tolong tentang masalah keluarga yang dihadapinya. Selama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=121&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --><span style="font-size:medium;">CHAPTER VII</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">HERE COMES THE DJ</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Apa yang bisa aku lakukan selain siap sedia membantu jika salah seorang sahabatku meminta pertolongan?! Jelas sekali Roy adalah salah satu dari sahabat-sahabat terbaikku di dunia. Pagi ini Roy menelponku dan membangunkanku dari satu-satunya tidur nyenyakku selama 1 minggu ini dan meminta tolong tentang masalah keluarga yang dihadapinya. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Selama ini aku sangat dekat dengan adik perempuannya dan ternyata sudah beberapa hari ini gadis itu minggat dari rumah. Roy berpendapat kalau aku adalah orang yang paling dekat dengan gadis itu karena itu dia memintaku untuk datang ke tempat kerjanya hanya demi bisa berbicara sebentar tentang masalah adiknya. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Untungnya&#8230; saat ini pacarku yang paling awet dalam beberapa bulan ini sedang tidak ada di kota. Praktis malam-malamku jadi sedikit kesepian. Tak ada salahnya menemani teman yang sedang membutuhkan tempat bicara. Semoga Dika tidak pernah tahu bagaimana bentuk persahabatanku dan Roy. (baca di chapter 1)</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Begitu keluar dari gedung tempat kantorku berada, aku langsung mengarahkan mobil ke belahan kota yang lain tempat gedung-gedung pemerintahan berada. Hmm&#8230; gedung kantornya nempil di pojokan gedung-gedung tinggi. Sebuah radio swasta yang ada di Surabaya. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Kuparkir mobil di depan pintu masuk gedung dan tanpa menunggu lama langsung masuk ke dalam, menaiki anak tangga sampai ke lantai 4. Belum juga aku sampai di lantai 2 Hpku bunyi.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Iya Roy&#8230; aku dah di lantai 2 kok&#8230;” kataku padanya sambil mengatur napas,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku masih di luar Na&#8230; Habis makan malam&#8230; Kamu naik aja ya! Tunggu di ruanganku aja!” katanya dengan suara angin kencang di belakangnya,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Okey! Aku tunggu deh!” sahutku mendadak lega karena aku gak perlu terburu-buru menaiki anak tangga yang jumlahnya mungkin ada lebih dari seratus biji.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Sedikit lebih santai aku menaiki tangga, tak lama kemudian  terdengar suara berderap dari lantai bawah. Seseorang berlari menaiki tangga. </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Nina! Lagi disini? Tumben amat?” sapanya dengan napas yang sangat teratur, tak terlihat seperti habis berlari di tangga 2 tingkat,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Hai DC&#8230; sehat banget ya?!” kataku mencoba menahan napasku yang tak beraturan,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Hahaha&#8230; iya dong&#8230; gue kan gak bisa olahraga pagi jadi kalau malam musti banyak gerak! Mau nemuin Roy?” tanyanya lagi,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Yup!!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Okey&#8230; aku duluan ya!” sahutnya lagi saat menyadari aku membutuhkan sedikit istirahat sebelum mulai menaiki tangga lagi,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Yeah&#8230;”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">DC adalah singkatan dari Demon Cross. Seorang DJ kawakan di Surabaya. Aku mengenalnya saat Roy ngajakin dugem di tempat dugemnya anak-anak muda Surabaya. BOXES memang termasuk tempat dugem elit. DJ-DJnya terkenal sebagai DJ paling digandrungi dan DC adalah DJ tetap disitu. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Sambil berjalan menaiki tangga yang banyaknya gak ketulungan, aku mencoba mengingat detail perkenalan kami sekitar beberapa bulan yang lalu.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">DC terlibat sebuah <em>affair</em> dengan boss radio ini, Inggrit Atmadja. Bu Inggrit bisa dibilang adalah tante-tante yang sangat pintar merawat diri. Pada usianya yang sudah kepala 4 dia berhasil menundukkan seorang cowok macho dan pujaan banyak cewek seusianya dan bahkan yang dibawahnya. DC benar-benar terpikat akan kebohongan-kebohongan dan tipu daya Bu Inggrit. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Aku tahu hubungan mereka karena tepatnya 4 bulan yang lalu aku memergoki DC dan Bu Inggrit sedang berciuman dengan sangat mesra di dalam toilet wanita. Aku juga heran bagaimana mereka bisa menyembunyikan ini semua dari orang sekantor jika aku yang bahkan bukan orang kantor ini bisa mencium hubungan mereka itu. Beberapa kali juga aku melihat mereka bertengkar dan detail-detail pertengkaran itu mau tak mau juga tertangkap oleh telingaku.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Sesampainya di lantai 4 aku menyadari keadaan yang anehnya terlihat sangat sepi.Biasanya ada <em>security</em> yang akan mondar-mandir dari lantai ke lantai, tapi tidak hari ini. Kulihat jam tanganku, waktu masih menunjukkan jam 6 lebih sedikit. Harusnya ada banyak penyiar di jam-jam ini yang <em>stand by</em>. Acara siang baru selesai dan acara selanjutnya akan disiapkan. Tapi&#8230; aku tak melihat siapapun di jangkauan penglihatanku. Ruangan Roy ada di ujung lorong dengan pintu paling semarak dengan notes warna-warni. Permintaan dari koleganya untuk membetulkan peralatan yang rusak atau mengalami gangguan. Belum juga aku sampai di depan pintu ruangannya, aku mendengar suara-suara dari ruang studio yang berada beberapa pintu dari ruangan Roy.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Penasaran dengan suara-suara itu aku pun berjingkat mendekati pintu studio. Studio itu dirancang kedap suara, untungnya pintunya juga didesain untuk tidak mengeluarkan suara ketika dibuka sehingga dengan mudah aku mendorong sedikit untuk membuat celah agar aku bisa mengintip dan mendengar siapa yang ada di dalam. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Normalnya aku akan langsung membukanya lebar-lebar tanpa menimbulkan suara apapun yang akan mengganggu proses pengambilan suara apapun yang terjadi di balik pintu itu. Namun kali ini, aku sangat yakin bahwa apa yang terjadi dalam studio itu benar-benar di luar konteks profesionalitas.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Benarlah perkiraanku, disana di tengah ruangan itu berdiri 2 sosok pria dan wanita dengan pose yang bisa dibilang sangat tidak dibenarkan dalam dunia profesionalitas ataupun dunia kesopanan. Inggrit dan DC sedang berciuman dengan sangat mesra tanpa memperdulikan dimana mereka berada. Inggrit menyandar pada meja operator dengan satu kakinya membelit paha DC dengan erat membuat roknya tersingkap lebih tinggi dan DC sedang mencumbu bibir dan lehernya bergantian.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Tiba-tiba ciuman mereka berhenti, aku menyangka DC menyadari kehadiranku karena itu dia berhenti namun ternyata&#8230; </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Seharusnya kamu gak tinggalin aku 2 minggu ini!” katanya sambil membelai rambut Inggrit yang panjang sampai ke punggung,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Oh ayolah Simon&#8230; Apa ini masih mengenai kepergianku ke Jakarta? Harusnya kamu mengerti, Simon&#8230; Aku ini istri Rodi! Sudah sewajarnya aku mengikuti Rodi ke undangan itu. Kami berdua diundang sebagai suami istri!” jawab Inggrit dengan aksennya yang khas, karena pernah beberapa tahun tinggal di London,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Tapi kamu kekasihku Inggrit!” sahut DC sambil mencumbu pangkal lehernya,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Apa maksud kata-kata kamu?” tanya Inggrit sambil menjauhkan bibir DC dari tubuhnya, mungkin agar dia bisa berpikir jernih,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Sudah saatnya Grit! Ceraikan Rodi! Hiduplah bersamaku!” kata DC dan tidak hanya berhasil membuat Inggrit tercengang&#8230; tapi juga aku,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Kamu gila, Simon!” sahut Inggrit, akhirnya benar-benar menjauhkan diri dari DC walaupun tidak terlampau jauh,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Nggrit&#8230; aku benar-benar sayang kamu! Tinggallah denganku&#8230; Sebagai istri ataupun kekasih. Terserah kamu! Aku gak akan memperlakukan kamu seperti Rodi memperlakukan kamu selama ini!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku mencintai kamu Mon! Tapi aku gak bisa menceraikan Rodi! Mengertiah sayang&#8230;” kata Inggrit sambil maju lagi dan berusaha mencium bibir DC.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Namun rupanya, DC sudah bertekad&#8230; kali ini Inggrit harus mengikuti apa yang dia katakan atau wanita itu akan kehilangan dia. Dikibaskannya tangan yang membelai rahangnya dan didorongnya Inggrit sejauh jangkauan tangannya. </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Keluar!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Mon&#8230;” Inggrit mencba merajuk, namun DC rupanya benar-benar sudah bulat tekad,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">KELUAR!!!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Menyadari tak lama lagi Inggrit akan keluar dari studio itu dan pastinya akan menangkap basah aku yang mencuri dengar. Maka akupun langsung berlari kecil meninggalkan ambang pintu dan bersembunyi di balik pilar tak jauh dari sana.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Begitu aku melihat Inggrit keluar dengan wajah kaku dan masam, aku langsung berjingkat melewati pintu studio yang masih terbuka. Berharap DC tak melihatku. Yah&#8230; harapan tinggal harapan. Suara DC memanggil namaku langsung menghentikan langkah-langkahku.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Hai D!” sapaku sedikit canggung,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Punya penjelasan kenapa kamu menguping pembicaraan?” tanyanya sambil berpura-pura membereskan meja operator,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;"><em>Well&#8230; I didn&#8217;t mean it</em>! Aku cari Roy di ruangannya tapi tak ada. Aku bermaksud untuk menanyakannya pada seseorang tapi tak ada siapapun di lobby dan di main studio. Aku mendengar suara dari sini dan hendak bertanya&#8230; tapi ternyata&#8230;”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;"><em>We know better than that!</em>” sergahnya sebelum aku selesai bicara, “Tapi udahlah&#8230; aku lagi malas berdebat!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Aku sudah akan keluar saat aku menangkap dari ekor mataku&#8230; Sosok DC yang membelakangiku terlihat sedikit bergetar. Dari belakang figurnya terlihat sangat menyedihkan. Sosok orang yang kalah.</span></p>
<p><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --><span style="font-size:medium;">Kenapa DC bisa jadi sangat berubah begini? Hanya karena seorang Inggrit? Bagaimana mungkin dia bisa begitu mencintai seorang wanita yang sudah berstatus istri orang dan merana karenanya?</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Sedikit ragu pada awalnya, bukannya segera keluar dan menemui Roy&#8230; Aku malah berbalik dan melangkahkan kaki kembali mendekatinya&#8230; dan menggali kuburanku sendiri.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Benar-benar selingkuhan yang tak tahu dimana posisinya berada!” sahutku sambil bersedekap, memandanginya dari belakang,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Apa maksud kamu? Kamu gak tahu apa-apa tentang hubunganku dan dia!” katanya tanpa berusaha untuk melihatku,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Kamu benar&#8230; Aku gak tahu apa-apa tentang hubungan kalian. Tapi hanya satu yang aku yakin dari hubungan kalian&#8230;” DC melirik ke arahku dengan enggan namun penasaran dengan apa yang ingin aku katakan, “Dia tidak mencintaimu DC!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Diam kamu, Nina!” katanya memperingatkan, bisa aku lihat percikan itu muncul di matanya, </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Dan apa yang kamu anggap cinta itu gak lebih hanyalah sebuah permainan bagi Inggrit&#8230;” lanjutku sambil meraih sebuah pita sutra berwarna putih yang terjatuh di lantai, “Tentu saja dia takkan menceraikan Rodi&#8230; Karena Rodi-lah yang memiliki apa yang dicintai oleh Inggrit!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">DIAM!!! DIAM KAMU NINA ALMEIRA!!” kalap, DC berteriak sambil menyambar pita yang ada dalam genggamanku,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku akan diam, DC! Tapi suara hatimu benar-benar berisik!”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Hanya dengan satu langkah DC berhasil meraih lenganku dan menyentakkanku mendekat padanya. Sebuah dorongan yang sekuat tenaga dilakukannya menghimpitku di pojok ruangan, berada diantara tembok kokoh berlapis karpet tebal dan tubuh DC yang liat dan keras. </span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Mata kami beradu dengan sengit, matanya penuh dengan kemarahan dan kekesalan, aku pun mengimbangi tatapannya dengan tak kalah tajam. </span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku benar DC&#8230; Kamu tahu apa yang aku katakan itu benar!” sahutku setelah susah payah menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Diam Na!” ancamannya keluar dalam bentuk desis tajam karena dia menahan diri dengan mengatupkan giginya,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Inggrit tak pernah menci&#8230;”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Detik berikutnya yang aku tahu adalah DC menciumku dengan ganasnya. Bibirnya mengambil apapun yang bisa diambil olehnya. Lidahnya seolah menghukumku atas kelancanganku bicara. DC melampiaskan semua kemarahan dan kesedihannya padaku dan aku berusaha bekerja sama dengannya. Mengimbangi gairah dan kemarahannya yang membakar dirinya perlahan dari dalam.</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Ciuman itu berakhir dengan tiba-tiba, sama mendadaknya dengan saat dimulai. Sebuah gigitan mengakhiri kegilaan DC. Dia benar-benar terkejut melihatku berdiri disitu dengan tampang acak-acakan dan bibir berdarah.</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Nina&#8230; Aduh&#8230; Sorry Na!” katanya bingung sendiri dengan pelampiasan kemarahannya padaku,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Sejenak tadi kamu mengira aku Inggrit kan?” tanyaku sambil membetulkan rambutku yang sudah acak-acakan,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Maaf Na!”</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">It&#8217;s okey D! <em>Feeling much better now?</em> Setelah melampiaskan semua kekesalan kamu?” tanyaku lagi beralih pada pakaian kerjaku yang terlihat kusut,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Kamu sengaja?!” DC terkejut dengan pernyataanku itu,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Aku gak bisa biarin kamu meneteskan airmata demi cewek gak tau diri macam Inggrit!” kataku lagi, seolah mengatakan hal itu cukup untuk menjelaskan keberanianku untuk mengusik macan yang terluka ini,</span></p>
<p>“<span style="font-size:medium;">Karena itu kamu mancing aku unt&#8230;”</span></p>
<p><span style="font-size:medium;">Saat DC masih termenung aku menyelinap keluar dan menuju pintu ruangan Roy yang terbuka, rupanya sahabatku itu sudah menungguku disana dengan cengirannya yang khas.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=121&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2010/04/26/chapter-vii-bagian-a-here-comes-the-dj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CHAPTER VI bagian c MY CUTE AND LOVELY SENIOR</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/31/chapter-vi-bagian-c-my-cute-and-lovely-senior/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/31/chapter-vi-bagian-c-my-cute-and-lovely-senior/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 08:26:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[nina_almeira chap 6]]></category>
		<category><![CDATA[almeira]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[herditya]]></category>
		<category><![CDATA[nina]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Kudorong tubuhnya sampai kembali menyandar di kursinya dan aku langsung melangkahi persneling dan duduk di atas pangkuannya. Kucium bibir Tyan untuk menyibukkannya dan tangan kiriku membawa penis Tyan masuk ke dalam vaginaku yang sudah siap. Ciuman itu meredam desahan kami saat penisnya amblas memasuki tubuhku. Awalnya aku hanya bergerak perlahan menikmati gesekan kecil tubuh kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=118&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Kudorong tubuhnya sampai kembali menyandar di kursinya dan aku langsung melangkahi persneling dan duduk di atas pangkuannya. Kucium bibir Tyan untuk menyibukkannya dan tangan kiriku membawa penis Tyan masuk ke dalam vaginaku yang sudah siap.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Ciuman itu meredam desahan kami saat penisnya amblas memasuki tubuhku. Awalnya aku hanya bergerak perlahan menikmati gesekan kecil tubuh kami saat aku bergerak  naik turun. Namun, rupanya Tyan yang sudah tak sabar memompa tubuhku dengan lebih keras dan cepat. Kedua tangannya dilewatkan melalui bawah ketiak dan menahanku tetap ditempat dengan cengkraman di bahu. Kakinya mendorong lantai mobil dan  pinggulnya terdorong keatas membuat penisnya melesak semakin dalam.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Oh God&#8230; Yan&#8230; Argh&#8230; Oh&#8230; Iya Yan&#8230; terus&#8230; Oh&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Sssh&#8230; argh&#8230; Mmh&#8230;” </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Posisi ini memang selalu membuatku jadi lebih gampang keluar&#8230; karena klitorisku terus bergesekan dengan kulitnya dan itu membuatku semakin nikmat. Benarlah&#8230; Tak lama&#8230; Kakiku sudah terasa lemas karena orgasme yang datang beberapa kali&#8230; hanya beberapa menit sebelum kurasakan cengkraman Tyan di pundakku pun ikut menegang dan kemudian ledakan itu terjadi di dalam perutku.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Bisa kurasakan letupan-letupan itu membawa ketegangan mengalir keluar dari tubuh Tyan. Badannya kembali relax dan matanya terpejam, menikmati moment berharga. Moment yang mungkin akan jadi yang terakhir dalam hidupnya. Moment ejakulasi karena tubuh seorang wanita.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Begitu lengan-lengan Tyan membebaskanku, aku langsung berpindah tempat, kembali ke kursiku sendiri. Kulirik Tyan yang masih sibuk mengatur napas sambil memejamkan mata.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Boleh aku tahu&#8230; Kenapa kamu bawa-bawa nama Romy tadi?” tanyaku pelan,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hhh&#8230; aku bilang gitu?” </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya&#8230; kamu bilang Romy pernah memperingatkanmu untuk gak terlalu deket ama aku!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Oh&#8230; iya&#8230; Itu kisah lama!” lanjutnya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Pastinya&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Beberapa saat sebelum pelulusan tepatnya. Apa kamu tahu pas jaman SMA aku pernah lumayan naksir ama kamu?” tanyanya masih menutup mata dengan lengannya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hah? Nggak&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Yup&#8230; gue bener-bener jatuh cinta ama kamu saat itu!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Bukannya saat itu kamu sudah jadi gay?” terus terang aku sendiri terkejut dengan apa yang dikatakan Tyan,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Siapa bilang? Itu cuma gosip basi! Yeah walaupun akhirnya bener-bener jadi kenyataan&#8230;” katanya sambil tersenyum geli, “Dia tahu aku naksir kamu dan berencana untuk ngajakin  kamu jadian saat itu!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Yang tidak pernah kamu lakuin saat itu!” kataku lagi,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Yup&#8230; gak pernah sempat aku lakuin&#8230; Karena dia langsung menemuiku begitu tahu aku mau nembak kamu! Dan&#8230; menasehatiku panjang lebar&#8230; Aku percaya aja karena saat itu aku juga sadar kalau dia bisa dibilang cowok yang paling deket ama kamu selain <em>bodyguard-bodyguard </em>itu!” jelasnya sambil memperbaiki posisi duduknya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Apa tepatnya yang dia bilang ke kamu?” tanyaku sedikit penasaran,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Dia pernah bilang sambil bercanda kalau kamu tuh iblis kecil yang disukai banyak orang&#8230; dan gue gak akan bisa membuat kamu berhenti menjadi seperti itu! Aku gak seberapa paham sih maksudnya tapi dengan teguran itu aja gue tahu apa maksud Romy&#8230; Kamu ada pada area terlarang!” katanya sambil membuat tanda silang dengan lengannya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ternyata dia bener kan?!” kataku sambil tersenyum geli,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Yah&#8230; <em>more &#8216;n less </em>deh! Mungkin kalau saat itu aku jadi nembak kamu&#8230; Aku gak akan jadi gay!” katanya sambil menatap ke kegelapan di luar mobil,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Lu juga bukan gay kok sekarang&#8230;” kataku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Gue gak habis pikir gimana bisa aku ML ma kamu&#8230; Padahal ama cewek lain gue gak pernah kepancing kayak gini. Hhh&#8230; kayaknya gue mesti batalin pernikahan itu deh!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Pernikahan gay? <em>Why not?</em>” tanyaku lagi padanya, masih tak habis pikir dengan kesetiannya yang ampun-ampun ama pasangan gaynya itu, “Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak bisa terpancing ama cewek lain&#8230; <em>just me!</em>”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Gue udah khianatin dia, Nina!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Anggap aja mengucapkan selamat tinggal kepada masa lalu&#8230; Bukannya kamu sebelumnya masih ada ganjalan karena pernah mencintai aku&#8230; Sekarang kan sudah nggak lagi&#8230; Jadi kamu masuk ke dalam pernikahan kalian benar-benar tanpa beban!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Yah kamu ada benarnya juga!” katanya lagi sambil membuka pintu mobil, “Gantian Na! Biar gue aja yang nyetir! Kalau kamu nyetir lagi gak tahu deh mau kamu berhentiin dimana lagi nih mobil!” katanya sambil membuka pintu sopir,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hehehe&#8230;” aku hanya nyengir menanggapi kata-kata Tyan, “Rencana gue sih cuma satu ronde itu, tapi kalau kamu masih pingin nambah&#8230; ntar sebelum masuk jalan tol ada penginapan kok!” kataku setelah masuk ke dalam mobil lagi,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Gila! Nggak&#8230; kita pulang!” kata Tyan sambil menyalakan mesin mobil.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Hubungan kami gak akan pernah sama lagi&#8230; Mungkin semua orang tahu bahwa dia seorang gay, tapi hanya aku yang tahu dan bisa membuatnya menjadi cowok normal. Aku hanya berharap semoga Cdku yang basah dan lembab yang ada di kantongnya itu gak akan ketahuan ama cowoknya. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=118&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/31/chapter-vi-bagian-c-my-cute-and-lovely-senior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CHAPTER VI bagian b MY CUTE AND LOVELY SENIOR</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/31/chapter-vi-bagian-b-my-cute-and-lovely-senior/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/31/chapter-vi-bagian-b-my-cute-and-lovely-senior/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 07:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[nina_almeira chap 6]]></category>
		<category><![CDATA[almeira]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[herditya]]></category>
		<category><![CDATA[nina]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[“Ough&#8230;!!” tak sengaja kakiku terpeleset dari pahanya karena gerakan tiba-tiba itu dan telak menekan penisnya dengan lumayan keras hingga membuatnya mengapitkan kakinya, “Siang pak!” sapaku, “Kamu kenapa Yan? Ada masalah?” tanya Pak Laksono melihat raut muka Tyan yang sedikit meringis, “Ng&#8230; Nggak ada a&#8230; apa-apa pak!” kakiku masih dijepitnya dengan paha, jadi telapak kakiku masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=114&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ough&#8230;!!” tak sengaja kakiku terpeleset dari pahanya karena gerakan tiba-tiba itu dan telak menekan penisnya dengan lumayan keras hingga membuatnya mengapitkan kakinya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Siang pak!” sapaku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kamu kenapa Yan? Ada masalah?” tanya Pak Laksono melihat raut muka Tyan yang sedikit meringis, </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ng&#8230; Nggak ada a&#8230; apa-apa pak!” kakiku masih dijepitnya dengan paha, jadi telapak kakiku masih menempel di celananya dan jari-jariku seolah terbenam di lekukan penisnya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Saya kira ruangan ini kosong!” kata Pak Laksono pelan, sudah jadi rahasia umum jika Bos kami ini selalu mencari tempat untuk merokok jika ada waktu luang,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Saya sedang membantu Pak Tyan untuk mempersiapkan materi pengajaran untuk pelatihan dan presentasi minggu depan, Pak!” jawabku saat melihat rasa penasaran beliau melihat kami hanya berdua.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Aku merasakan tekanan pada kakiku sedikit mengendur, namun aku takkan membiarkan kesempatan untuk mengerjainya ini terlepas begitu saja. Perlahan&#8230; aku menambahkan tekanan pada kakiku dan menikmati matanya yang mengerjap kaget.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ah&#8230; Iya! Proyek dengan label La Roses itu ya?! Ah&#8230; itu bikin saya ingat! Tyan&#8230; bisa bantu saya mengantarkan dokumen persetujuan yang harus ditanda tangani pak Rudy?” Pak Laksono menanyakan kesediaan Tyan, walaupun sebenarnya jika itu keluar dari Pak Laksono akan jadi sebuah perintah,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Bisa pak! Apa setelah ditanda tangani langsung dibawa kesini lagi?” tanyanya sedikit terlalu antusias karena melihat kesempatan untuk lari dari lubang yang digalinya sendiri,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya! Setelah dari sana kalian langsung pulang aja! Besok baru dibawa ke kantor!” lanjut Pak Boss,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Tapi Pak?! Sama Nina?” Tyan baru sadar maksud perintah itu bukan hanya untuknya tapi juga untukku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya&#8230; mobil kantor kan dibawa ke luar kota semua&#8230; Jadi kamu bisa pinjam mobil Nina&#8230;” kata Pak Laksono sambil keluar dari ruang rapat dan menutup pintunya dari luar,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Selamat siang Pak!!” sahutku pelan saat Pak Laksono keluar, “Jadi keluar?!” tanyaku sambil menggoyangkan kunci mobilku di depannya.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Setelah Pak Laksono keluar, Tyan langsung berdiri dari kursinya dan wajahnya seolah-olah menyerukan kata-kata yang ditahannya dalam mulut, &#8216;APA-APAAN KAMU?!&#8217;. Namun rupanya dia tak jadi melemparkan kata-kata itu. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Karena itu kini ketika aku dan dia ada di dalam ruang sempit bernama mobil dia jadi lebih banyak diam. Kura-kura itu telah menyembunyikan kepalanya di dalam tempurung.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Aku berinisiatif untuk mendiamkannya dan membiarkannya asyik dengan pikirannya sendiri. Membuatnya sedikit santai dan kembali membuka diri. Tidak membutuhkan waktu lama rupanya. Saat pulang aku mengajukan diri untuk menyetir karena kulihat dia sedikit mengantuk.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Kami hanya duduk sebentar setelah melakukan perjalanan Surabaya-Batu dan tak sempat beristirahat jadi wajar saja jika dia jadi mengantuk. Aku biarkan saja dia duduk dengan pandangan menerawang sampai kami melewati area padat. Sengaja lebih memilih jalur bawah daripada harus melewati tol yang pastinya sangat padat. Tiba-tiba&#8230; aku mendapat ide yang sangat briliant&#8230; Ada sebuah tempat yang aku tahu dari temanku. Sebuah tempat yang bagus dan sedikit nempil di tempat sepi.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kamu mau belok kemana?” tanyanya sambil membetulkan posisinya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Aku tahu jalan alternative. Di depan sana ada perempatan yang macet banget!” kataku sambil mengarhkan mobil masuk jalan desa,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Tapi ini tempat sepi&#8230; Balik ke jalan besar aja!” kata Tyan tak setuju,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Gak papa&#8230; jalannya aman kok!!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Akhirnya dia menyerah dan membiarkanku menyetir dengan tenang. Tempat yang aku tuju sudah tak jauh dari sana dan rumah penduduk disini bisa dibilang sangat jarang. Kulirik Tyan yang sedang duduk tenang di sebelahku, tangannya terkulai di atas perutnya, napasnya teratur. Perlahan aku memindahkan tanganku yang ada di persneling ke atas pahanya.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Dia sedikit terkejut karena gerakan itu, namun tak berusaha menyingkirkan tanganku. Mungkin dia ingin melihat sampai sejauh apa aku mau menjahilinya. Dia hanya menatap tanganku dengan pandangan tak percaya.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Aku mulai berani karena reaksinya, kuremas kecil pahanya  sebagai tanda, lalu aku mulai membelai pahanya dari luar bahan celananya dan semakin naik ke atas ke arah pangkal pahanya.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>That&#8217;s enough</em> Na&#8230; Kalau kamu cuma mau tahu apa aku biseks atau bukan rasanya kamu sudah tahu jawabannya dari tadi siang saat kita masih di ruang rapat kan?”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hell yeah&#8230; Gak ada gay yang bisa ereksi sekeras itu terhadap cewek!” kataku sambil cekikikan, “Bahkan dua kali dalam sehari!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Argh&#8230;” desahannya terlepas dari mulutnya, “Apa-apaan kamu, Na? Ini masih dijalan!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Its okey! Gak ada yang liat kok!” ku kocok penisnya yang sudah ereksi dengan satu tangan dan menikmati desahannya yang tertahan dan keluar sebagai desis dari sela giginya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">STOP IT, NA!”</span></p>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Aku langsung meminggirkan mobil ke tempat yang aku maksud dan berbalik menghadapi cowok gay yang sedang sangat kesal itu <em>and stare him right in the eye.</em></span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Okey&#8230; <em>But you&#8217;ll do me!</em>” kuraih tangan kanannya dan kuletakkan di dadaku.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">GILA APA?!” serunya sambil berusaha menarik tangannya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Aku heran deh ama kamu&#8230; sebenarnya apa yang membuat kamu takut?”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Gue dah punya cowok Na&#8230;! dan aku akan married ama dia! Kalau gue ML ma lu&#8230; itu artinya jalan satu arah buat gue&#8230; <em>No way return&#8230;</em> Gue akan terus jadi bi dan ngekhianatin cowok gue!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Beberapa detik aku terdiam&#8230; ini gak akan semakin mudah.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>Just once&#8230; no one hurt&#8230; for the past?? please&#8230;</em>” rengekku dan ketika dia lengah aku membawa tangannya ke balik rok dan menyelipkan jarinya masuk ke balik CD dan menyentuh kemaluanku yang basah, sukses membuatnya kembali tersentak. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Gue dah se- desperate ini lho&#8230; masa&#8217; lu tega biarin gue sampai kayak gini karena kamu Yan?” </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><em>Just that simple and</em> gue bisa menikmati raut wajahnya ketika kendali itu lepas&#8230; <em>It just snatched!! </em>Tangan kanannya masih berada di balik rokku dan tangan kirinya menutup wajahnya sendiri&#8230; disisirkannya jemari itu ke rambutnya dan mengacak-ngacak rambut yang tersisir rapi, mungkin berharap otaknya sekacau rambutnya sekarang. “Sekarang gue tahu kenapa Romy nyuruh gue ngehindarin kamu&#8230; Kamu emang iblis kecil, Na!” aku sedikit tersentak mendengar Tyan menyebut nama itu, tapi keterkejutanku tak lama karena sesaat kemudian Tyan sudah merangsek ke arahku dan menciumku dengan ciuman yang penuh dengan kekesalan karena kalah oleh rayuanku.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Umh&#8230; Ugh&#8230;” desahanku terbungkam oleh mulutnya, jari-jarinya masih berada dibalik cd-ku dan membuat kakiku tak bisa diam gemetar.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Satu tangannya meremas payudaraku dengan gemas, sementara aku membantunya dengan melepaskan resleting di bagian depan bajuku. Sejenak kemudian dia sudah melumat dadaku dengan mulutnya yang rakus.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>Do it now,</em> Yan! Lakuin sekarang!” kataku berbisik di telinganya, permintaan itu membuat tubuhnya kaku, namun aku takkan membiarkan dia kembali ke dalam cangkang tebalnya semudah itu.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=114&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/31/chapter-vi-bagian-b-my-cute-and-lovely-senior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CHAPTER VI bagian a MY CUTE AND LOVELY SENIOR</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/11/chapter-vi-my-cute-and-lovely-senior/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/11/chapter-vi-my-cute-and-lovely-senior/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 04:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[nina_almeira chap 6]]></category>
		<category><![CDATA[almeira]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[herditya]]></category>
		<category><![CDATA[nina]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[CHAPTER VI MY CUTE AND LOVELY SENIOR Siang ini bukan siang biasa&#8230; 2 minggu yang lalu aku sudah diterima untuk magang di sebuah perusahaan periklanan dan hari ini adalah hari pertamaku untuk bekerja. Memang cukup aneh karena anak kuliah di jurusan perhotelan malah ambil magang di perusahaan periklanan&#8230; tapi bagiku itu cukup menggembirakan. Aku diterima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=110&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:medium;">CHAPTER VI </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:medium;">MY CUTE AND LOVELY SENIOR</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Siang ini bukan siang biasa&#8230; 2 minggu yang lalu aku sudah diterima untuk magang di sebuah perusahaan periklanan dan hari ini adalah hari pertamaku untuk bekerja. Memang cukup aneh karena anak kuliah di jurusan perhotelan malah ambil magang di perusahaan periklanan&#8230; tapi bagiku itu cukup menggembirakan. Aku diterima karena keahlianku memakai komputer dan keahlianku berbahasa asing.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Karena itu hari ini aku sudah siap untuk bertemu dengan bosku. Aku ditempatkan di tim perencanaan dan akan bekerja dengan 6 anggota tim yang lain. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Setelan warna merah pucat dan rok span warna merah yang senada dengan tas kerjaku pas memeluk tubuh, rambutku kubiarkan tergerai ikal sedikit acak-acakan. Make up tipis yang kupakai juga turut mendukung penampilanku yang terkesan formal namun tidak kaku.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Kulihat 2 orang cowok cewek sedang berbicara di depan meja resepsionis. Keduanya langsung menoleh ke arahku saat melihat aku keluar dari lift.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ada yang bisa saya bantu?” sahut gadis berambut panjang di belakang meja,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya&#8230; saya sudah membuat janji dengan Bapak Laksono atas nama Nina Almeira!” sahutku sambil tersenyum ramah,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ah&#8230; Anak magang yang baru ya? Pak Laksono menunggu Anda di ruang rapat nomor 3!” katanya setelah membuka komputer,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Biar saya antar mbak! Saya rasa Mbak belum tahu tempatnya kan?” cowok yang tadinya berbicara dengan resepsionis itu langsung menawarkan diri,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya&#8230; makasih!” sahutku sambil mengikuti cowok itu.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Begitu masuk ke dalam ruang rapat, aku bisa melihat lebih dari sepuluh orang yang berada dalam ruangan itu. Termasuk orang yang aku sebutkan sebagai Bapak Laksono.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Selamat siang!” sapaku saat memasuki ruangan itu dan melihat beberapa pasang mata menatapku dengan heran bercampur penasaran,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Selamat siang, Nina! Silahkan masuk!” katanya sambil menutup pintu di belakangku, “Mari saya perkenalkan semuanya&#8230; Ini adalah Nina Almeira yang mulai hari ini akan mulai membantu pekerjaan tim perencanaan.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Baiklah! Saya akan perkenalkan teman satu timmu! Dari ujung kanan itu adalah Priyadi, Anggoro, Lutfi, Ami, Bramantyo dan Gary. Di kursi di seberang ini adalah beberapa senior kamu. Haris dari bagian Pengembangan, Riesma dari bagian Accounting, Asmi yang duduk di bagian paling depan itu adalah sekretaris saya dan satu lagi&#8230;” Pak Laksono menoleh ke arah pojok kanan ruangan sedikit terlalu jauh di ujung, “Sini Yan!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya Pak!” katanya maju ke depan, membuat aku bisa mengenali garis wajahnya yang sungguh familiar,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kalau yang ini kamu pasti kenal!” kata Pak Laksono sambil tersenyum kecil,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Sesaat aku memang terkejut, namun keterkejutanku langsung sirna karena mengenali pria di depanku itu, “Selamat siang Pak! Sudah lama tak berjumpa! Pak Herdityan Santoso kan?!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Dia juga baru beberapa bulan disini. Pindahan dari kantor cabang di Semarang. Disini dia menjabat sebagai kepala bagian <em>Product Design</em>!” kata Pak Laksono menjelaskan.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Rupanya Pak Laksono tahu bahwa aku dan Herdityan pernah satu sekolah bahkan dia lumayan deket denganku karena dia adalah teman sekelas Romy semasa SMA. Dia Romy dan Ruseno lumayan dekat satu sama lain.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Selamat datang dan Selamat begabung! Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik!” sahutnya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Pasti!” sahutku sambil memasang cengiran nakal dan menyambut ajakannya bersalaman.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:medium;">^%$#</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Herdityan di tahun terakhirnya malah diserang gosip gak enak. Banyak yang bilang kalau Tyan adalah <em>gay</em>. Gosip ini lumayan santer di antara anak-anak senior. Wajah Tyan memang manis banget&#8230; semasa SMAnya dulu dia terkenal cute dengan rambut cepak yang agak ikal dan wajah baby face.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Mengingat penampilannya tadi siang aku jadi tertawa kecil. Dia tak banyak berubah. Kulitnya masih putih khas cowok yang gak pernah beraktifitas di bawah sinar matahari, gayanya sangat eksekutif dengan kacamata berbingkai kotak tipis. Memang sedikit lebih tegas, namun Tyan yang sering aku goda dan isengin itu masih ada dibalik itu semua.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:medium;">%$#@!</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="center">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">1 bulan bekerja dengan timku memang membuatku banyak belajar, apalagi mereka adalah orang-orang profesional di bidangnya. Benar kata Pak Laksono, timku sering sekali bekerjasama dengan bagian design karena itu pula aku dan Tyan jadi sering sekali bertemu bahkan menjalani rapat seharian.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Aku dan dia kini jadi lumayan dekat dalam konteks profesional, walaupun dia masih sering menolak ajakan untuk jalan berdua. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Tapi itu tak menyusutkan rasa penasaranku atas gosip yang masih juga melekat padanya. Gosip gay itu masih juga mengikutinya kemanapun. Karena setahuku&#8230; Tyan bukan gay tapi biseks dan aku bermaksud untuk meyakinkan diriku sendiri atas fakta itu.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Akhirnya kesempatan itu datang, 3 bulan sejak aku masuk ke perusahaan itu. Bisnis sedang longgar, hal ini menyebabkan perusahaan memilih saat ini untuk melakukan pelatihan di luar kota. Sedangkan aku yang masih pegawai magang namun sudah dipercaya oleh atasan ini malah ditugaskan untuk menjaga kantor bersama beberapa pegawai yang lain.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Di timku sendiri hanya ada aku, Anggoro dan Ami. Hari itu cukup sibuk untuk hari-hari lenggang. Anggoro sedang mengikuti rapat dengan bagian pemasaran, sedangkan Ami sedang melakukan survei diluar kantor. Tinggallah aku sendirian di kantor tim yang lumayan besar ini. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Kulihat keluar jendela dan ternyata ruang despro yang berada tak jauh dari ruanganku juga lumayan lenggang, hanya ada 2-3 orang di dalamnya termasuk Tyan yang harus tinggal di kantor karena sedang menghadapi presentasi untuk proyek baru.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Saat aku hendak mengambil istirahat makan siang lebih cepat karena pekerjaanku telah selesai, aku mendengar seseorang memanggilku. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ada apa Pak?”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kamu mau kemana?”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Mau ke cafetaria&#8230; Saya mau makan siang karena pekerjaan saya selesai lebih cepat. Maunya sih habis makan bantuin ke anak accounting karena tadi mereka udah minta bantuan karena kekurangan orang.”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Gak usah ke accounting&#8230; Kamu ke tempat saya aja! Saya perlu bantuan dengan script presentasi milik kepala bagian yang lama!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Okey!!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Alih-alih mengajakku ke kantornya dia malah meraih berkas-berkasnya dan mendahuluiku menuju ruang rapat no 2 yang rupanya sedang kosong. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Sini aja! Saya gak mau kita diganggu ma anak-anak lain!” katanya sambil membuka pintu ruangan dan mempersilahkanku masuk lebih dulu,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Emangnya bapak mau minta saya bantuin apa?” tanyaku sambil mengambil tempat duduk di pojok ruangan menghadap ke pintu,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ini! Dan tolong jangan gunakan panggilan Pak ketika kita cuma berdua, aku masih belum terbiasa!” jawabnya sambil menyodorkan setumpuk berkas,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Okey! Jadi&#8230; Ada apa dengan berkas-berkas ini?!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Tolong sortir berkas-berkas ini, hanya yang menyebutkan tentang kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan kosmetik!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kenapa harus aku?” tanyaku lagi masih penasaran,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Karena&#8230;” dibukanya kumpulan berkas itu dan ditunjuknya dengan jemarinya yang langsing, “ini menggunakan bahasa Inggris!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>I see&#8230;</em>” tanpa menunggu perintahnya aku langsung mengambil alih tumpukan berkas itu dan segera menyortirnya. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Keadaan yang <em>private</em> itu tanpa sadar membuatku melakukan hal yang biasanya aku lakukan jika aku sendirian atau sedang santai bersama teman. Aku melepas sepatuku di bawah kursi dan memainkan kakiku.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Rupanya kebiasaan kamu itu masih sama ya?!” katanya sambil tersenyum kecil tanpa melihatku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ah&#8230; maaf!” sahutku sambil mencari-cari kemana larinya sepatuku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Aku sudah bilang kamu gak perlu begitu padaku. Kalau memang itu membuatmu lebih santai&#8230; <em>Feel free to do that!</em>” katanya sambil mengalihkan perhatian dari berkasnya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>Thanks!</em>” dengan santainya aku melepas kedua sepatuku dan menyilangkan kakiku di kursi, “<em>This is much better!</em>”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hahaha&#8230; <em>You still as funny as before!</em>”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Setelah itu selama beberapa saat diantara kami hanya kesunyian yang ada hanya suara napas dan suara gemerisik kertas yang dibolak-balik. Bagiku&#8230; tugas ini adalah tugas yang mudah. Namun demi kesempatan langka berdua-duaan dengannya aku melakukan tugas ini dengan sedikit perlahan dan teliti. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Saat aku merasa sudah gak bisa lagi berpura-pura acuh, aku pun angkat bicara, “Yan&#8230; Aku mau tanya satu hal ama kamu&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Tanya aja Na!” katanya cuek,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kamu beneran gay ya?” tanyaku sepintas lalu,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Uhuk&#8230; Pertanyaan kamu aneh banget sih Na!” dia tersedak ludahnya sendiri,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ya gak aneh dong! Okey&#8230; Aku tahu dari sejak SMA tempelan gay udah ada pada diri kamu, bahkan sampai sekarang juga begitu!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Lalu?” tanyanya acuh,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Anehnya&#8230; Aku merasa kalau kamu bukan sepenuhnya gay!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>Are we really need to talk about it?</em>” selanya sambil menutup matanya dengan tangan,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Karena aku tahu kamu masih tertarik ama cewek!” lanjutku tanpa menggubris interupsinya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Nina!! <em>Stop it!</em>” sahutnya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">What?”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>Back to work</em>, Na! Ingat&#8230; ini masih jam kerja!” katanya menasehatiku, namun sesaat napasnya tercekat di kerongkongan dan matanya menatapku dengan tajam,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">&#8230;” kuselipkan kakiku yang berstoking ke dalam keliman celananya membelai bulu-bulu panjang di kakinya dan merasakan sensasi bahan stokingku yang lembut dengan bulu laki-laki yang kasar,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Na&#8230;” pandangannya menghujam meja kaca dan membuatku heran kenapa kaca itu belum juga hancur berkeping-keping,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>You feel it?</em>” aku menatap wajahnya sejenak, memperhatikan segaris saja bersit kenikmatan di wajahnya, “Yeah&#8230; <em>You feel it don&#8217;t you?!</em>”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Aku tak terpengaruh Na! <em>Get rid of your feet!!</em>” katanya ketus dan menyingkirkan kakiku sejauh kakinya bisa lakukan,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Yan&#8230; Ayolah&#8230; Aku hanya ingin mengetahui apa teoriku benar! Gak ada salahnya kan kamu bekerja sama sejenak. <em>I&#8217;m trying to concentrated here!</em>” kakiku semakin berani menyentuhnya, kunaikkan keatas dan merayap naik pada pahanya yang tertutup celana kain warna gelap,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Nina&#8230; just st&#8230;” </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Selamat siang!” sapa seseorang dari arah belakangnya dan membuat dia menoleh dengan cepat,</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=110&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/11/chapter-vi-my-cute-and-lovely-senior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>febian&#8230; the vocalist</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/11/febian-the-vocalist/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/11/febian-the-vocalist/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 04:35:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Febian]]></category>
		<category><![CDATA[photo]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Hm&#8230; cowok dengan harga diri setinggi langit karena terlalu banyak fans yang mencintainya dan groupies yang siap jadi pengisi malam2 sepinya&#8230; akhirnya ketemu ma tandingannya ketika bertemu nina!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=106&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hm&#8230; cowok dengan harga diri setinggi langit karena terlalu banyak fans yang mencintainya dan groupies yang siap jadi pengisi malam2 sepinya&#8230; akhirnya ketemu ma tandingannya ketika bertemu nina!</p>
<div id="attachment_107" class="wp-caption alignnone" style="width: 98px"><img class="size-full wp-image-107" title="febian" src="http://ninaalmeira.files.wordpress.com/2009/07/febian.jpg?w=450" alt="febian the vocalist"   /><p class="wp-caption-text">febian the vocalist</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=106&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/11/febian-the-vocalist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ninaalmeira.files.wordpress.com/2009/07/febian.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">febian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Andika Prameswara</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/10/andika-prameswara/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/10/andika-prameswara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 01:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[andika]]></category>
		<category><![CDATA[photo]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Tampangnya Andika kalau lagi pusing nanggepi kelakuan Nina yang kadang2 bisa bikin orang waras jadi stress berat<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=102&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tampangnya Andika kalau lagi pusing nanggepi kelakuan Nina yang kadang2 bisa bikin orang waras jadi stress berat</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-103" title="andika" src="http://ninaalmeira.files.wordpress.com/2009/07/andika.jpeg?w=450" alt="andika"   /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=102&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/10/andika-prameswara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ninaalmeira.files.wordpress.com/2009/07/andika.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">andika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CHAPTER V part c THERE ARE HEAT ON THE CLUB</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/10/chapter-v-part-c-there-are-heat-on-the-club/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/10/chapter-v-part-c-there-are-heat-on-the-club/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 01:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[nina_almeira chap 5]]></category>
		<category><![CDATA[almeira]]></category>
		<category><![CDATA[andika]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[nina]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Kulebarkan kakiku dan kuposisikan punggungku agak turun. Sikuku bertumpu pada bantal. Posisi itu memberi sinyal bagi Dika bahwa aku sudah siap untuknya. Dengan sigap, Dika melepas celana jeansnya dan menyingkirkannya ke pinggir. Dia pun mengambil tempat di antara kakiku dan langsung mengarahkan penisnya ke mulut vaginaku. “ARGH&#8230; Oh god&#8230; Penis kamu gedhe banget sih Dik? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=90&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Kulebarkan kakiku dan kuposisikan punggungku agak turun. Sikuku bertumpu pada bantal. Posisi itu memberi sinyal bagi Dika bahwa aku sudah siap untuknya. Dengan sigap, Dika melepas celana jeansnya dan menyingkirkannya ke pinggir. Dia pun mengambil tempat di antara kakiku dan langsung mengarahkan penisnya ke mulut vaginaku.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">ARGH&#8230; <em>Oh god</em>&#8230; Penis kamu gedhe banget sih Dik? Rasanya&#8230; gue jadi perawan lagi nih!” kataku sambil membenamkan wajah di bantal,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Nina&#8230; seret banget&#8230; Ough&#8230; di dalam kamu rasanya hangat banget&#8230; Aku mulai gerak ya?” katanya meminta ijin walaupun sebenarnya tak perlu,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Oh <em>my god</em>&#8230; Nina&#8230; Ah&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Masukin sampai dalam Dik&#8230; Ough&#8230; Egh&#8230; Kamu gerakinnya agak cepat gak apa-apa kok&#8230; Kayaknya aku udah mulai terbiasa!” kataku sambil ikut menggerak-gerakkan pantatku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Okey! Aku cepetin aja ya?!” </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Suara pantatku dan perut bagian bawahnya yang saling bertubrukan menimbulkan gema dalam mobil. Napasku menjadi sangat pendek karena perutku terasa penuh oleh penis Dika yang lumayan besar dan panjang. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Slop&#8230; plok&#8230; slop&#8230;” suara itu terus terdengar seiring keluar masuknya penis Dika dari vaginaku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Oh&#8230; Dika&#8230; aku dah mau nyampe nih!” kataku dengan suara pelan karena menahan jeritan nikmat,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Keluarin aja Na&#8230; gue masih bisa lanjut kok!! Aku cepetin lagi ya?!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ah&#8230; Oh&#8230; <em>God</em>&#8230; Dika&#8230; Dika&#8230;” aku jatuh gemetar di lantai mobil sambil meneriakkan nama Dika dan langsung dibungkam dengan ciuman keras olehnya.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Masih belum selesai getaran pada tubuhku, Dika sudah membalikkan tubuhku yang lemas. Mengganjal pantatku dengan beberapa buku diktat tebal yang ada di dalam mobil dan langsung menghajar lagi bagian bawah tubuhku sampai terasa ngilu.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Dua kali aku harus lunglai gemetaran dengan penis Dika menancap dalam tubuh sampai saat Dika meremas payudaraku kencang-kencang dan menggigit kulit di bagian leher bawahku dengan gemas.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Lemas dan merasa nyaman dengan beban tubuh Dika di atas tubuhku, kurengkuh tubuhnya dan kukaitkan sebelah tanganku pada rambutnya yang gondrong dan sedikit basah karena keringat dingin, kami lupa menyalakan AC dalam mobil karena terlalu asyik. Dika membalas pelukan itu dengan ciuman di tengkuk dan rambutku. Kami beristirahat setelah kehebohan tadi dalam posisi itu selama beberapa saat.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kenapa kamu memilihku?” tanyanya sambil membelai kulit lenganku yang telanjang,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Apa maksudnya itu?” tanyaku balik sambil bergidik karena belaiannya yang terasa begitu posesif,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>Well&#8230; </em>jelas-jelas tadi Lucky tertarik ama kamu&#8230; Dia mengajakmu berdansa! Dan aku yakin dia takkan menyapaku untuk beberapa hari ini!!” ada nada kesal dalam kata-katanya yang membuatku menelengkan kepala ke belakang, ke arahnya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Menyesal? Merasa aku kurang berharga dibanding beberapa hari tanpa keberadaan Lucky, teman baikmu?”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Tentu tidak!” sergahnya terkejut dengan tuduhanku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Bagus!!” merasa sedikit lega, aku mulai kembali santai dan merebahkan kepalaku di lengannya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kamu tahu maksudku Na&#8230; Lucky jelas lebih kaya dan lebih tampan kan?”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Definisikan kata kaya dan tampan!” kataku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hahaha&#8230;” tubuhnya sedikit berguncang karena tawa kecil itu, “Entahlah&#8230; punya banyak uang&#8230; warisan segudang&#8230; tampang kayak bintang sinetron mandarin?!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hihihihi&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Gue serius&#8230;” katanya sambil menciumku pas di belakang telingaku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Okey&#8230; okey!” aku membalikkan badan dan menatap mata Andika yang penuh keraguan dan tanda tanya, “Dari awal aku melihat ke arah meja kalian&#8230; Pandanganku sudah dipenuhi wajah kamu! Begitu yang lain bicara dan merayu&#8230; aku hanya memperhatikan kamu! Walaupun aku berdansa dengan Lucky&#8230; aku tetap hanya bisa melihatmu!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Okey&#8230; <em>You make me blush, now!</em>” katanya sambil membenamkan wajahnya di dadaku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;"><em>You ask</em>!” kataku sambil meremas rambutnya dengan gemas,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Nina&#8230;” bisiknya&#8230;</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya&#8230;” </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ini bukan terakhir kali kita bertemu kan? Aku&#8230; gak mau jika hanya <em>one nite stand</em> ama kamu!” katanya sambil menarikku lebih rapat,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hm&#8230; apa aku bilang kamu hanya untuk o<em>ne nite stand?</em>” tanyaku menahan senyum,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Nggak&#8230; Tapi&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kita pasti akan bertemu lagi!” tegasku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Bukan hanya bertemu!” </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Seks juga!” kataku lagi,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Bukan hanya seks&#8230; Aku ingin lebih dari kamu, Na! Bukan sekedar <em>a great sex&#8230; like before</em>!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ada yang pernah bilang kalau kamu ini banyak maunya?” tanyaku sambil menelengkan kepala,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ya&#8230; beberapa orang, sih!” sahutnya jujur,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Kita liat nanti, ya!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Aku masukin nomor hapeku disini&#8230; <em>Make sure you call me&#8230;</em>” dengan sigap memasukan nomor telponnya ke dalam Hape-ku dan segera menekan tombol call, “<em>Or I&#8217;ll call you!</em>”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Iya&#8230; Aku ngerti!”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:medium;">&amp;^%$</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Begitu masuk ke dalam mobil, Lulu langsung menyandarkan kepalanya di sandaran seat dan menghembuskan napas lega. Tampangnya tak kalah kacau dengan diriku sendiri. Rupanya&#8230; pertarungan di pihaknya juga tak kalah seru. </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Aku dan Andika sudah sempat beristirahat beberapa puluh menit lamanya di mobil sebelum akhirnya Lulu menelpon dan bilang kalau dia sudah mau pulang. Saat itu juga Andika pun segera meraih pakaiannya yang berserakan dan memakainya di dalam mobil, tanpa kesusahan berarti&#8230; mengingat tubuhnya lumayan berotot. Setelah sekali lagi mengingatkanku untuk menelponnya segera sesampainya aku di rumah, dia keluar dari pintu belakang mobil dan mempersilahkan Lulu untuk masuk ke dalam mobil.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Fiuh&#8230; Thanks god kalian udah selesai&#8230; Aku gak tau apa masih bisa berdiri tegak setelah semua itu!” katanya sambil meraih tissu di depannya dan menyeka lehernya yang berkeringat,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Mereka benar-benar memiliki tenaga yang berlebih, ya?!” kataku sambil menyunggingkan senyum termanisku pada Lulu,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Bener banget&#8230; sampai kepayahan aku&#8230;” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala membuat rambut lurusnya semakin berantakan.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Kami saling menatap beberapa saat, lalu tertawa terbahak-bahak. Aku langsung menyalakan mesin mobil dan mulai berjalan keluar dari parkiran.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Aku ikut tidur di rumah kamu ya&#8230;” katanya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Okey! Tapi besok pagi aku musti ke kampus pagi-pagi banget&#8230;” </span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Jeez&#8230; Nina&#8230; Come on&#8230;!! Memangnya kamu gak capek apa setelah melayani kebuasan mereka itu?!” kata Lulu tak percaya,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Well&#8230; he did it gently to me! Jadi badanku gak seberapa capek kayak kamu&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Hell yeah&#8230; brutal banget deh tuh anak&#8230; Guess that youre lucky to have that boy&#8230;” Lulu menghenyakkan tubuhnya dengan keras ke sandaran dan menelengkan kepalanya ke arahku,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">For sometime I guess!” jawabku enteng,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Ough&#8230; bagus banget&#8230; 1 cowok polos tergoda lagi oleh kamu!” sergah Lulu kesal dan memutar bola matanya dengan lucu,</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:medium;">Sialan lu!” sahutku sambil meninju lengannya tanpa rasa kesal dengan tuduhannya padaku, seolah-olah aku lah yang merayu cowok itu masuk ke pelukanku.</span></p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;">Well&#8230; aku rasa&#8230; kata-kata Lulu ada benarnya. Bukannya aku tidak turut andil dalam usaha menggoda Andika sampai di ujung kesabarannya. Akupun terkikik geli dalam hati.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=90&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/10/chapter-v-part-c-there-are-heat-on-the-club/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CHAPTER V part b THERE ARE HEAT ON THE CLUB</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/09/chapter-v-part-b-there-are-heat-on-the-club/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/09/chapter-v-part-b-there-are-heat-on-the-club/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 16:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[nina_almeira chap 5]]></category>
		<category><![CDATA[almeira]]></category>
		<category><![CDATA[andika]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[nina]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Kini&#8230; kami masih berdansa tapi dengan irama kami sendiri. Suara dentuman keras itu terasa tak terdengar di telingaku. Yang saat itu aku rasakan hanya panas tubuhnya dari permukaan kulit kami yang bersentuhan tanpa halangan. Ciuman kami semakin panas dan rasa panas itu mulai meminta pelepasan total. Dengan perlahan aku melepaskan tangannya yang dilingkarkan di leherku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=88&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kini&#8230; kami masih berdansa tapi dengan irama kami sendiri. Suara dentuman keras itu terasa tak terdengar di telingaku. Yang saat itu aku rasakan hanya panas tubuhnya dari permukaan kulit kami yang bersentuhan tanpa halangan.</p>
<p>Ciuman kami semakin panas dan rasa panas itu mulai meminta pelepasan total. Dengan perlahan aku melepaskan tangannya yang dilingkarkan di leherku dan menggenggamnya erat.</p>
<p>Kutatap matanya penuh keseriusan dan langsung menariknya meninggalkan lantai dansa. Menyeruak melalui tubuh-tubuh yang berdesakan. Dengan langkah tergesa aku menariknya menaiki tangga landai menuju tempat duduk kami di pojok ruangan itu.</p>
<p>“Mau kemana kamu, Na?” tanya Lulu saat melihat kami melewati meja dengan tergesa-gesa,</p>
<p>“Aku keluar dulu cari angin&#8230; Ntar&#8230; kalau kamu dah mau pulang telpon ke hp aja!”</p>
<p>“Oh&#8230; okey!”</p>
<p>Setengah berlari aku menarik tangan Dika, keluar dari pintu klub yang lenggang. Melewati meja-meja yang dipenuhi cowok-cewek berpasang-pasangan dan mengobrol dengan suara keras atau bahkan tanpa sungkan bermesraan disana. Begitu keluar dari klub kami sudah ada di area parkir mall yang berada di lantai tertinggi. Mobil-mobil mahal berjejer disana-sini.</p>
<p>“Kamu mau kemana sih?”</p>
<p>Dengan segenap tekad dan rasa frustasi karena begitu ingin menyentuhnya, aku memutar tubuhnya dan membuat punggungnya menempel pada badan mobil di belakangnya. Ku lingkarkan lenganku pada tengkuknya, dadaku menyentuh dadanya dengan cara yang membuatku merasa begitu nikmat.</p>
<p>Tangannya merengkuhku dengan posesif, membelai pahaku yang terbuka, jemarinya dengan ahli masuk ke balik kaosku dan merasakan panasnya tubuhku tanpa terhalang suatu apapun. Tangan kanannya naik ke tengkukku, menengadahkan wajahku dan dilumatnya bibirku penuh nafsu, lalu ciuman itu merayap turun dan dia menghujani leher dan dadaku yang terbuka dengan ciuman-ciuman kecil.</p>
<p>Ku rasakan nafsu ini semakin memuncak dan tak lagi dapat tertahan. Aku berjongkok di depannya dan menurunkan resleting celana jeans yang dia pakai. Membebaskan batang panas itu dari rasa sesak karena terhimpit. Tanganku bisa menggenggamnya dengan sangat pas dan aku pun mulai menggerakkannya naik turun.</p>
<p>Tak lama kemudian, tempat parkir yang luas dan sepi itu terasa penuh dengan suara hembusan napas yang keras dan panas, suara isapan dan jilatan lidahku pada penisnya. Kedua tangan Dika mencengkeram erat sisi kepalaku dan bimbang antara memasukkan penisnya makin dalam dan menjangkau area panas dalam tenggorokanku atau mencabutnya dan menghentikan siksaan dari rasa nikmat yang mendera bagian paling sensitif dari tubuhnya.</p>
<p>“Nina&#8230; Ah&#8230; Oh God! Na&#8230; Ini terlalu&#8230; terlalu&#8230; Argh&#8230;”</p>
<p>“Na&#8230; Gue&#8230; Urgh&#8230; Oh&#8230; Ssh&#8230;”</p>
<p>“Gak&#8230; Gak&#8230; Ta&#8230; Han&#8230; Na&#8230;”</p>
<p>Dika meledakkan dirinya di dalam mulutku dan kurasakan tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya dia bersandar lemas di badan mobil sambil salah satu tangannya menutupi mukanya.</p>
<p>“Gila kamu, Na! Kamu gak bermaksud untuk ngelakukan ini sampai akhir disini kan?”</p>
<p>“Hm&#8230; I don&#8217;t think so&#8230; Gue gak mau ambil resiko ketahuan satpam club dan harus berhenti di tengah jalan gara-gara itu&#8230;”</p>
<p>“Ancrit&#8230; Kalau gitu ngapain kamu lepasin CD kamu di sini?” tanyanya sambil meraba ke bawah rok miniku saat aku melepas CD yang kupakai,</p>
<p>“Aku emang gak mau lakuin ini disini&#8230; Tapi di dalam mobil aku rasa aman!”</p>
<p>Dengan terburu-buru aku membuka pintu mobil yang dipakai Dika untuk bersandar dan masuk melalui pintu belakang. Menuju bagasi yang lebar karena kursi tengah udah gue turunin dari saat berangkat. Kusingkirkan bantal dan buku-buku diktat kuliah yang berserakan. Maklum&#8230; Harusnya saat ini aku lagi ngebut bikin tugas bahkan ketika saatnya gue istirahat jeda antara satu kelas dengan kelas selanjutnya yang biasanya gue pakai untuk tidur di dalam mobil.</p>
<p>Aku naik mendahului Dika dengan posisi nungging karena harus ngerapiin selimut yang dipakai untuk pelapis lantai mobil yang keras. Namun belum sempat melakukan itu Dika sudah mendorongku semakin masuk dan dia pun ikut naik ke dalam mobil dan menutup pintu di belakangnya dengan segera.<br />
Digenggamnya buah pantatku dengan tangannya dan disorongkannya lidahnya ke dalam vaginaku melalui belakang. Posisiku membuat bagian bawahku benar-benar terekspos dengan terang-terangan dan rupanya itulah yang membuat Dika tak tahan, apalagi ketika itu aku sudah melepas Cdku.</p>
<p>“Slurp&#8230; Ehm&#8230; Oh Na&#8230; Gue dah gak tahan&#8230; gue masukin sekarang ya!! Kamu dari tadi godain aku terus sih!!”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=88&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/09/chapter-v-part-b-there-are-heat-on-the-club/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CHAPTER V  part a THERE ARE HEAT ON THE CLUB</title>
		<link>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/09/chapter-v-there-are-heat-on-the-club/</link>
		<comments>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/09/chapter-v-there-are-heat-on-the-club/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 07:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>djgirlie</dc:creator>
				<category><![CDATA[nina_almeira chap 5]]></category>
		<category><![CDATA[almeira]]></category>
		<category><![CDATA[andika]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[nina]]></category>
		<category><![CDATA[seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ninaalmeira.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Setelah terakhir kali Lulu mengajakku untuk bertandang ke klub favoritnya dia untuk merayakan keberhasilanku dapatin Ilham&#8230; Or I must say&#8230; dapetin cairan spermanya dalam kondom untuk Lulu. Aku bener-bener kapok untuk dugem lagi, especially jika teman dugemku adalah Lulu. NO way&#8230; Lagipula&#8230; beberapa minggu ini aku dipusingkan oleh tugas kuliah yang menuntut penyelesaian karena deadline [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=85&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Setelah terakhir kali Lulu mengajakku untuk bertandang ke klub favoritnya dia untuk merayakan keberhasilanku dapatin Ilham&#8230; Or I must say&#8230; dapetin cairan spermanya dalam kondom untuk Lulu. Aku bener-bener kapok untuk dugem lagi, especially jika teman dugemku adalah Lulu. NO way&#8230;</p>
<p style="text-align:left;">Lagipula&#8230; beberapa minggu ini aku dipusingkan oleh tugas kuliah yang menuntut penyelesaian karena deadline yang sudah sangat dekat. Setumpuk buku diktat menunggu untuk di rangkum.</p>
<p style="text-align:left;">Namun rupanya tak ada deadline tugas yang dikenal Lulu karena malam itu dia datang ke apartement dengan menggunakan pakaian dinas untuk dugem dan merengek-rengek minta ditemanin dugem.</p>
<p style="text-align:left;">“Ayolah, Babe&#8230; Aku mau minta temenin siapa lagi?!” katanya sambil mengikutiku ke arah ruang kerja yang aku alih fungsikan jadi ruang belajar,</p>
<p style="text-align:left;">“Anyone but me&#8230; Lulu&#8230; tugas gue numpuk di meja belajar tuh&#8230;” kataku sambil melambaikan tangan ke arah meja yang permukaannya sudah hampir tak terlihat karena tertutup hamparan buku diktat dan kertas catatan,</p>
<p style="text-align:left;">“You can do it tomorrow&#8230; Tonight&#8230; give me a favor!” katanya sambil menutupi pandanganku ke arah meja,</p>
<p style="text-align:left;">“Who is this guy now?” tanyaku sambil meminum teh hangat yang tadi aku siapkan sebagai teman bergadang.</p>
<p style="text-align:left;">Aku tahu pasti&#8230; Jika Lulu ngotot untuk ngajakin dugem  dadakan gini. Cuma ada satu alasan kuat untuk itu. Man. Cowok mana lagi yang terpikat wajah malaikatnya gadis yang sebenarnya adalah Setan ini?!</p>
<p style="text-align:left;">“Cowok cute yang gue kenal di internet&#8230; Dia dan temen-temennya ngajakin kita untuk dugem bareng!” katanya sambil memilin-milin rambut panjangnya yang tergerai,</p>
<p style="text-align:left;">“Kamu&#8230;” ralatku cepat saat mendengarnya menggunakan subjek kita,</p>
<p style="text-align:left;">“No&#8230; kita!!” katanya lagi menegaskan,</p>
<p style="text-align:left;">“What? Lu&#8230; kamu gak sebarin foto gue di internet kan?” kataku kesal,</p>
<p style="text-align:left;">“He loves our picture!!”</p>
<p style="text-align:left;">“Which picture?!”</p>
<p style="text-align:left;">“Yang kita foto di kolam renang pas ultahnya Zaky&#8230;” spontan aku langsung menepuk jidat dengan gemas.</p>
<p style="text-align:left;">Foto itu diambil sekitar 2 bulan yang lalu. Zaky bikin pesta di rumah salah satu pacarnya yang memiliki kolam renang dan apalagi yang akan dilakukan oleh para penggila pesta ini kecuali ikut nyemplung dalam kolam dengan pakaian seadanya?!</p>
<p style="text-align:left;">Sebuah foto dimana aku masuk ke dalam kolam hanya mengenakan bra dan CD yang serasi sedangkan Lulu hanya mengenakan tank top tanpa bra dan hot pants.</p>
<p style="text-align:left;">Hanya malaikat yang tak tergoda melihat foto itu terpampang di hidung mereka atau bahkan malaikat pun akan tergoda?! Never mind!!</p>
<p style="text-align:left;">“No&#8230; Lulu!!” kataku lagi sambil meraih kursiku,</p>
<p style="text-align:left;">“Ayolah Nina&#8230; Just this time&#8230;” katanya sambil menarik tanganku dan mengirimkan pandangan dengan sejuta tantangan ke arahku,</p>
<p style="text-align:left;">“Iya dah&#8230; daripada kamu ngomel disini semalaman&#8230;” kataku menyerah kalah dengan bujukannya yang sangat gigih.</p>
<p style="text-align:left;">Aku masuk ke dalam kamar dan keluar lagi dengan dandanan lengkap, sebuah baju lengan panjang kerut dengan bagian bawah hanya menutupi sebagian perutku, rok mini sepaha dari bahan jeans dengan korsase dari renda.</p>
<p style="text-align:left;">Rambutku aku biarkan tergerai ditahan dengan bando dari berlian imitasi yang gemerlap di bawah lampu.</p>
<p style="text-align:left;">“Ough&#8230; Girl&#8230; Kamu gak terlihat seperti orang yang 5 menit yang lalu ogah-ogahan diajak dugem!” sindirnya saat melihat dandananku,</p>
<p style="text-align:left;">“Masa&#8217; dugem pake baju tidur?! Kalau kamu mau aku bisa ganti baju&#8230;”</p>
<p style="text-align:left;">“Gak&#8230; Gak&#8230; kita berangkat aja!!” katanya, takut aku berubah pikiran lagi.</p>
<p>*&amp;^</p>
<p>Begitu kami memasuki ruangan hall itu, suara musik sudah menghentak dan berdentam, sampai rasanya jantung juga berdegup sesuai iramanya. Ah&#8230; udah lama gak menghirup aroma kebebasan.</p>
<p style="text-align:left;">Lulu dengan cepat melongok ke kanan kiri mencari cowok yang dia cari. Tak lama kemudian dia melambaikan tangan ke suatu arah dan dia langsung menggandengku menuju ke sudut ruangan dimana beberapa cowok sedang asyik berbincang sambil meminum minuman yang ada di meja mereka.<br />
4 orang cowok dengan dandanan yang lumayan fashionable. Mungkin karyawan kantoran atau anak kuliahan dari universitas Jetset. Begitu Lulu dan aku mendekati mejanya. 2 orang berdiri dan menyapa kami yang lain yang ada di bagian sofa yang agak jauh hanya melambaikan tangan.</p>
<p style="text-align:left;">Lucky, Johan, Abel dan Andika&#8230; Lucu juga. Dari penampilan saja aku tahu, Lucky dan Johan pasti host malam ini. Gaya borju mereka begitu memancar. Lucky yang memang seorang chinese dan Johan yang sedang mengutak-atik hp keluaran terbaru si itemberry. Gaya mereka berdua yang terasa so familiar ma cewek bikin aku sudah malas melirik mereka. Aku justru lebih tertarik pada cowok dengan kulit sawo matang dan rambut gondrong yang diikat di belakang kepala dan mengeluarkan aura liar dipojok sofa dan seolah tak peduli akan kehadiranku dan Lulu.</p>
<p style="text-align:left;">Berbeda dengan Johan dan Lucky yang langsung tebar pesona dan melancarkan rayuan pulau kelapa. Dia justru terlihat acuh tak acuh.</p>
<p style="text-align:left;">“Kalian ini teman apa? SMA, kuliah atau kerja?” tanyaku pada Lucky yang duduk tepat di seberangku,</p>
<p style="text-align:left;">“Aku ma Johan sih temen kerjaan&#8230; Kalau Abel ini sepupu aku dan Dika itu temen SMAnya Johan!” jelasnya sambil menikmati tequila dalam gelasnya,</p>
<p style="text-align:left;">“Kalian kerja dimana nih? Gak ada kerjaan buat Lulu?” tanya Lulu sambil memutar-mutar gelas cocktailnya,</p>
<p style="text-align:left;">“Hahaha&#8230; kalau kamu mah gak usah kerja&#8230; kasihan kuku kamu ntar patah semua!” kata Johan menggodanya,</p>
<p style="text-align:left;">“Aku kerja di perusahan perkapalan milik bokap. Ngurusin kerjaan ekspor impor barang! Kalau Johan idem juga ma aku&#8230; Cuman aku di bagian shipment dia dibagian accountnya!” lanjut Lucky setelah ketawa mendengar ledekan Johan pada gadis manis di sampingnya,</p>
<p style="text-align:left;">“Aku sekarang lagi bisnis sendiri aja. Coba-coba event organizer bareng temen!” Abel langsung tanggap ketika aku memandanginya dengan raut wajah penuh tanya,</p>
<p style="text-align:left;">“Kerjaanku? Gak pentinglah&#8230; Gak bisa dibandingkan ama cowok-cowok ini!” kata Andika berusaha menghindari pertanyaan tentang kerjaannya,</p>
<p style="text-align:left;">“Sialan lu Dik!! Bukannya hanseng kemarin naik beberapa poin?! Lu menang gedhe kan kemarin?! Ancrit&#8230;” kata Johan sambil memukul bahu temannya itu dengan pelan dan dibalas dengan cengiran dari Dika,</p>
<p style="text-align:left;">“Oo&#8230; main saham?!” gumamku pelan,</p>
<p style="text-align:left;">“Ama valas&#8230; dan he is very good on it!” tambah Lucky hormat,</p>
<p style="text-align:left;">“Yah&#8230; cuman dapat uang receh ini, Ky!”</p>
<p style="text-align:left;">Obrolan kami terpotong karena minuman yang mereka pesan sudah datang dan obrolan serius pun kami tinggalkan.</p>
<p style="text-align:left;">Sekitar kami mulai semakin ramai dan udara pun mulai memanas&#8230; Gelas-gelas minuman datang dan diangkat pergi, meninggalkan suhu tubuh yang meningkat karena rasa panas dalam tubuh.</p>
<p style="text-align:left;">Musik dari DJ stand juga makin menghentak dan up beat, membuatku menggoyang-goyangkan kepala karena terbius. Sekilas kulirik Lulu dan Johan yang sudah duduk berdempetan sampai Johan terlihat seperti memangku Lulu di pahanya. Lucky melirikku dengan pandangan penuh tawa geli. Kulirik Andika yang masih menatapku dengan intens tapi seolah tanpa minat.</p>
<p style="text-align:left;">Tiba-tiba&#8230; “Nina! Mau dansa denganku?” Tawaku langsung meledak melihat Lucky yang bergaya bak seorang pangeran mengajak putri menari, “Boleh&#8230; Dansa folk? Atau classic?!”</p>
<p style="text-align:left;">“RnB dance is okey&#8230;”</p>
<p style="text-align:left;">Dengan mantap Lucky membimbingku ke lantai dansa menyeruak kerumunan cowok cewek yang sudah mabuk kebebasan malam itu. Saat kami berhenti di tengah lantai dan mulai menggoyangkan badan, musik itu hanya bisa membuatku berdansa ala kadarnya sambil mengamati ruangan yang remang-remang. Siluet tubuh Lucky di depanku dan bayangan orang di sekelilingku seolah hanya simpang siur. Namun aku bisa merasakan pandangan intens dari satu sudut ruangan. Menghujamku dengan tajamnya. Pandangan Andika.</p>
<p style="text-align:left;">Tak lama kemudian Lucky pamit untuk ambil minuman untuk kami berdua dan dia pun menghilang ditelan kerumunan. Merasa sendiri dan lebih bebas, aku pun mulai menggerakkan tubuhku lagi. Mengikuti suara musik yang berdentam. Merasa lebih bebas dengan kesendirianku, aku pun mulai bergoyang dengan lebih sexy dan heboh. Merasakan kesendirianku dan menikmati rasa percaya diri yang meluap keluar dari tubuh.</p>
<p style="text-align:left;">Tak kurasakan pandangan lapar disekelilingku yang seolah ingin melahapku hidup-hidup. Tak kuhiraukan sentuhan dan belaian penuh nafsu mereka pada tubuhku. Aku hanya ingin menari dan berdansa untuk diriku sendiri.</p>
<p style="text-align:left;">Hingga beberapa saat kemudian aku rasakan lengan kuat merengkuh tubuhku dari belakang dan menarikku mendekat. Entah bagaimana dan kenapa, aku tahu&#8230; pemilik lengan kuat itu adalah Andika.</p>
<p style="text-align:left;">Dirapatkannya tubuhku dan tubuhnya, tangan kanannya melingkari tubuhku dan bertengger dengan mantap di pinggul kiriku. Tangannya yang satu membelai lengan kiriku dan kemudian menggenggam tanganku dalam tangannya yang besar. Kami terus berdansa dengan liarnya.</p>
<p style="text-align:left;">Lagu pun berganti, suara hentakan dan dentuman itu berganti dengan suara sexy Shakira, mengirimkan irama latin yang telah di mix dan semakin membuat aku dan Andika terhempas ke dunia kami sendiri.</p>
<p style="text-align:left;">“Kamu benar-benar sexy&#8230;” desahnya di telingaku.</p>
<p style="text-align:left;">Dengan satu putaran aku membalik tubuhku dan meletakkan tanganku di dadanya tepat diatas bahan halus kemejanya. Membakar kulitnya dengan sentuhanku. Satu kakinya menyelip di antara kedua kakiku dan kedua tangannya merengkuh tubuhku, meremas kedua belah pantatku dan dia menarik tubuhku semakin rapat, seolah ingin meleburkan diri denganku.</p>
<p style="text-align:left;">Posisi ini membuatku bisa merasakan betapa panas membara suhu tubuh Dika. Gelombang listrik merayap dari pangkal pahanya menyebar ke tubuhku.</p>
<p style="text-align:left;">“Hei&#8230; Sepertinya kamu udah excited banget nih&#8230;”</p>
<p style="text-align:left;">“Jangan salahin aku dong! Ini kan semua karena kamu sendiri. Kamu goyangnya sexy banget! Aku yakin&#8230; Bukan cuma aku yang terpesona ama gerakan kamu!”</p>
<p style="text-align:left;">“Masa&#8217; sih?” kataku gak percaya sambil tengak-tengok melihat ke sekeliling kami,</p>
<p style="text-align:left;">Dengan tangannya dia menahan wajahku dan … “kenapa harus peduliin orang lain kalau aku sudah terpesona ama kamu?”</p>
<p style="text-align:left;">Mendengar kata-katanya yang penuh rayuan dan lebih memabukkan dari alkohol manapun dalam keadaan normal mungkin akan membuatku tertawa terbahak-bahak, namun pandangan matanya yang intens itu membuatku terdiam dan menatap wajahnya yang tampan dalam diam.</p>
<p style="text-align:left;">Area di bawah jakunnya dimana kancing kemejanya terbuka 2 buah membuatku menelan ludah. Tanpa pikir panjang, aku pun mendekatkan wajahku ke bagian itu dan menghirup aroma tubuhnya yang telah bercampur dengan parfum. Kucium dan kugigit kecil kulitnya tepat dibawah jakunnya yg naik turun, menelan ludah.</p>
<p style="text-align:left;">“Nina&#8230; Aku ingin merasakan kamu&#8230;”</p>
<p style="text-align:left;">Setelah membisikkan kalimat itu dia langsung menunduk dan melumat bibirku dengan satu sentakan. Ciuman yang berawal dari sentuhan ringan bibir dan dengan cepat berubah menjadi api yang terkena minyak tanah. Meledak dengan hebatnya. Tangannya membingkai wajahku tak mengijinkanku mengalihkan pandangan. Tanganku sendiri mencengkeram bagian punggung kemejanya, tak rela melepaskannya lagi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ninaalmeira.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ninaalmeira.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ninaalmeira.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ninaalmeira.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ninaalmeira.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ninaalmeira.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ninaalmeira.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ninaalmeira.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ninaalmeira.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ninaalmeira.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ninaalmeira.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ninaalmeira.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ninaalmeira.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ninaalmeira.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ninaalmeira.wordpress.com&amp;blog=7363424&amp;post=85&amp;subd=ninaalmeira&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ninaalmeira.wordpress.com/2009/07/09/chapter-v-there-are-heat-on-the-club/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf6cdc6e57648ac8319b1248a5cbf679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=R" medium="image">
			<media:title type="html">djgirlie</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
